logo rilis
Lahan Sulfat Masam Bak Mutiara yang Terpendam
Kontributor
Elvi R
18 Oktober 2019, 14:02 WIB
Lahan Sulfat Masam Bak Mutiara yang Terpendam
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Bila membaca maupun mendengar tentang tanah sulfat masam, maka asosiasi kita akan mengarah kepada lahan dengan 1.001 masalah, terutama kaitannya dengan kegiatan budidaya tanaman pangan. Paradigma ini telah terpecahkan dengan hadirnya Inovasi Balitbangtan dimana dengan pengelolaan lahan yang tepat sesuai dengan karakteristik tanah dapat merubah lahan sulfat menjadi lahan pertanian yang produktif. Pengelolaan tanah dan air, ameliorasi serta pemupukan berimbang merupakan kunci utama dalam pengelolaan lahan sulfat masam. Hal ini sejalan dengan dukungan untuk mensukseskan program SERASI yang disandangkan di pundak Balitbangtan.

Dalam arahan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Dr. Fadjry Djufry pada pembukaan Temu Lapang Program SERASI 14 Oktober 2019 di Desa Jejangkit, Kecamatan Batola, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan menyampaikan bahwa teknologi Balitbangtan sudah tidak diragukan lagi demikian juga pendampingan yang dilakukan oleh peneliti dan penyuluh.

Pada kesempatan yang sama, peneliti senior Balai Penelitian Tanah Dr Wiwik Hartatik menyampaikan bahwa dengan inovasi teknologi pengelolaan tanah dan air melalui pembuatan jaringan tata air makro dan tata air mikro, dan penataan lahan mampu meningkatkan produktivitas lahan sulfat masam.

Lebih lanjut Wiwik menjelaskan bahwa dalam melakukan penataan lahan perlu memperhatikan hubungan antara tipologi lahan, tipe luapan, dan pola pemanfaatannya. Misalnya untuk tata air pada lahan yang bertipe luapan A dan B perlu diatur dalam sistem aliran satu arah (one way flow system), sedangkan untuk lahan bertipe luapan C dan D, saluran air perlu ditabat/disekat dengan stoplog untuk menjaga permukaan air tanah agar sesuai dengan kebutuhan tanaman serta memungkinkan air hujan tertampung dalam saluran tersebut. Untuk keperluan pengaturan tata air ini perlu dibangun pintu-pintu yang sesuai sebagai pengendali air.

Inovasi teknologi lainnya yang wajib diterapkan dalam pengelolaan lahan sulfat masam adalah ameliorasi dan pemupukan berimbang, dimana kedua hal ini  merupakan upaya dalam mengatasi kendala kesuburan lahan sulfat masam yang dicirikan dengan tingginya tingkat kemasaman tanah, tingginya kelarutan Fe, Al dan Mn serta rendahnya ketersediaan unsur hara terutama P dan K dan kejenuhan basa yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Upaya ameliorasi lahan dengan kapur pertanian atau dolomit dengan tujuan untuk meningkatkan pH tanah dan ketersediaan hara dan aplikasi bahan organik dalam mendukung peningkatan kualitas sifat fisik dan biologi tanah.

Balai Penelitian Tanah sebagai lembaga riset telah memiliki teknologi perangkat uji cepat untuk tanah rawa atau dikenal dengan sebutan PUTR (Perangkat Uji Tanah Rawa) dimana perangkat uji ini dapat memberikan informasi terkait status hara tanah serta rekomendasi pemupukannya.

Balai Penelitian Tanah juga telah melakukan berbagai kegiatan penelitian terkait lahan sulfat masam, diantaranya yang telah dilaksanakan di Telang, Sumatera Selatan. Hasil penelitian menunjukkan dengan pemberian dolomit 2 ton per hektare dan SP-36 200 – 300 kilogram per hektare dapat menghasilkan rata-rata 4,0 ton per hektare GKG.

”Hasil senada juga diperoleh pada penelitian lainnya di Tanah Anen, Kalimantan Selatan, dengan aplikasi 43 kg P/ha, 52 kg K/ha, kapur 1 t/ha dan pupuk kandang 5 t/ha memberikan hasil 3,24 t/ha GKG” ujar Wiwik.

Dalam acara yang juga dihadiri oleh Kepala Balai Penelitian Tanah Dr Ladiyani Retno Widowati juga menyampaikan bahwa pengembangan usahatani di lahan sulfat masam memerlukan strategi yang tepat yaitu dengan melakukan penanaman komoditas yang adaptif, baik dengan tipologi lahan maupun tipe luapan, penyesuaian pola tanam. Yaitu dengan mempertimbangkan kondisi air, iklim dan tipe luapan pasang surut serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam pengelolaan lahan sulfat masam, dengan menerapkan teknologi pengelolaan lahan yang efektif dan efisien guna meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman secara berkelanjutan serta meningkatkan pendapatan usahatani.

Lebih lanjut diharapkan melalui acara Temu Lapang Program SERASI ini dapat memberikan informasi yang jelas kepada stake holder terkait khususnya petani bahwa lahan sulfat masam adalah mutiara yang terpendam yang harus kita angkat agar bisa bermanfaat khususnya di bidang pertanian. Dengan pengelolaan yang tepat beserta kawalan sepenuhnya dari segenap pihak, lahan sulfat masam mampu menjadi penyumbang kebutuhan pangan di Indonesia.

Sumber: WH/LRW/AFS/KZ/M.Is/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID