Home » Muda

Lafran Pane, Pendiri HMI yang Tak Punya Ambisi Politik

print this page Kamis, 9/11/2017 | 19:35

Lafra Pane. FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta—  Presiden Joko Widodo memberikan anugerah gelar pahlawan nasional kepada Lafran Pane, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pada upacara penganugerahan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Lafran Pane dikenal sebagai figur yang sangat sederhana. Adik kandung sastrawan Sanusi Pane dan dan Armijn Pane itu, sama sekali tidak memiliki ambisi politik. Ia konsisten menghabiskan hidupnya untuk mengabdi kepada Republik.

"Pak Lafran itu keluarga jurnalis, sastrawan dan pejuang kemerdekaan. Beliau menghabiskan hidupnya untuk mengabdi kepada Republik ini," kata Hariqo Wibawa Satria Beji, penulis buku ‘Lafran Pane; Jejak Hayat dan Pemikirannya’ kepada rilis.id, di Jakarta, Kamis (9/11). 

Menurut Hariqo, kesederhanaan Lafran pernah disinggung oleh Prof Dr Dochak Latief yang menyatakan, "Lafran Pane itu sederhana sekali hidupnya.” Lafran, bahkan tak punya rumah sampai meninggal. 

“Saya sudah ke rumahnya, ke rumah teman dan murid-muridnya, ke ruang kerjanya di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ke rumah anaknya di Bintaro dan ke kampungnya di Sipirok, semua jawabannya sama, Lafran sederhana sekali orangnya,” ungkapnya.

Lafran termasuk tokoh yang tak punya ambisi politik apa pun. Padahal kesempatan ada dan tawaran tak pernah berhenti.

“Kepentingan nasional bagi Lafran diatas kepentingan lainnya. Ia mengambil posisi tidak terlibat dalam berbagai polarisasi ideologi yang berkembang setelah kemerdekaan. Lafran Pane dan HMI independen dari berbagai kepentingan kelompok. Hingga akhir hayatnya, Lafran konsisten sebagai dosen dan tidak pernah jadi anggota partai politik manapun,” jelasnya.  

Kehadiran Lafran Pane dan HMI, lanjutnya, dapat meminimalisir polarisasi antara kelompok nasionalis, sosialis, komunis dan Islam di kalangan mahasiswa pascaproklamasi 1945.   

Sebagaimana diketahui, selain Lafran Pane, tokoh yang juga mendapat gelar pahlawan nasional adalah, almarhum Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Madjid asal Lombok Nusa Tenggara Barat, almarhumah Laksamana Malahayati asal Aceh, almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah asal Kepulauan Riau.

Penulis Taufiq Saifuddin
Editor Syahrul Munir

Tags:

Pendiri HMISanusi PaneArmijn PaneLafran Pane

loading...