Yudhie Haryono

Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center. 

Kurs: Kreativitas Manusia Tercerdas Abad Ini

Selasa, 17/10/2017 | 18:06

BUKAN nabi. Bukan teknolog. Tapi pencipta kurs dan utang-piutang. Orang-orang inilah yang mencipta sistem perdagangan valas sehingga mampu mengontrol perekonomian global: menjajah negara-negara.

Merekalah yang mengubah pusat-pusat peradaban. Dari peradaban batu, arsitek, teknologi, bahkan perang bintang menjadi "secarik kertas yang diberi angka”. Begitu cerdasnya, kita hanya bisa bilang kagum dan "iya."

Pada awalnya disebut "sistem Bretton Woods”. Itu adalah persetujuan yang mengatur nilai tukar semua mata uang (negara) terhadap emas. Tetapi, sistem ini tak membuat dominasi Negara Amerika kukuh dikarenakan mereka tak banyak cadangan emasnya. Maka, tahun 1971, sistem ini diganti dengan sistem nilai tukar berbasis volume ekspor dan impor.

Pasar mata uang pun perlahan mulai berevolusi dan bergerak bebas dengan Amerika sebagai pemegang kendali karena ekspor dan negeri jajahannya besar plus teknologinya tinggi (mereka ekspor senjata dan produk budaya). Negara-negara lain mulanya sulit untuk menentukan nilai tukar, namun seiring dengan perkembangan teknologi akhirnya bisa menentukan nilai tukar mata uang satu dengan yang lain dengan mudah.

Hanya di sistem pasar bebas, mata ajar matematik mati. Hanya di sistem ini, nalar kemanusiaan mati. Hanya di sistem ini, neokolonial subur dan tak dipahami manusia dengan kecerdasan biasa. Sebab, sistem ini dirancang oleh orang tercerdas abad ini. Yang bukan nabi, bukan teknolog, apalagi tukang ziarah dan berdoa.

Kalau kalian masih anggap dengan mencium batu hitam akan kalahkan Amerika, Anda mimpi di siang hari. Apalagi kalau hanya membaca kitab kuno dan menciumnya mesra seakan-akan mencium perawan ranum: Anda sesungguhnya di neraka sebelum waktunya.

Maka, ingat kawan-kawanku semua. Ini soal kegeniusan. Seribu tahun lalu, orang-orang tercerdas adalah pembuat agama (para nabi). Seratus tahun lalu, orang-orang tercerdas adalah pembuat nuklir (para teknolog). Puluhan tahun lalu, orang-orang tercerdas adalah pembuat uang dan teori utang-piutang (para ekonometrik).

Utang bersama kurs adalah hilir dari senjata neokolonial. Utang adalah uang yang dipinjam. Seseorang atau negara yang meminjam disebut debitur. Yang memberikan utang disebut kreditur.

Sebagai debitur, utang negara pada 2014 rezim SBY sebesar Rp2.604 triliun. Rezim Jokowi, per Maret 2015 Rp2.797 triliun, naik Rp193 triliun. Utang itu berasal dari pinjaman luar negeri sebesar Rp696 triliun dan SBN (Surat Berharga Negara) sebesar Rp2.099 triliun. Yang dari pinjaman luar negeri berasal dari Jepang Rp219,6 triliun, Prancis Rp24,9 triliun, Jerman Rp20.4 triliun. Negara lain Rp77,92 triliun. Bank Dunia (WB) Rp182,8 triliun, Asia Development Bank (ADB) Rp110,4 triliun, IDB Rp7,8 triliun. Lainnya Rp2,6 triliun. Dengan jumlah utang sebesar itu, kini setiap kepala warga negara punya beban Rp15 juta jika dibagi rata ke semua.

Apa kecerdasan kreditur (para ekonometrik)? Yaitu posisi mereka tidur, kita bekerja. Mereka menagih, kita pontang-panting. Mereka mendikte, kita tak bisa tidur. Mereka bersantai, kita terjajah. Mereka main golf, kita diperkosa. Kukira tak ada nabi dan teknolog yang lebih cerdas dari para ekonometrik. Sebab, para nabi dan teknolog bekerja keras, para ekonometrik bertamasya sambil berzina. So, apa solusinya jika Anda presiden?

Maka, seperti tuan Suroto Ph katakan, "Sepertinya kita sekarang hanya perlu membiasakan diri dengan krisis ekonomi hari-hari, dengan kerusakan lingkungan tak terhenti, konflik penuh kebiadaban tak terperi. Semua itu karena kita semua telah terima doktrin persaingan dengan tangan terbuka. Itu semua karena kita telah menerimanya sebagai bagian penting dari hidup Indonesia."

Sumber Kurs: Kreativitas Manusia Tercerdas Abad Ini