logo rilis
KTT Minoritas Muslim Tetapkan Islamofobia Kejahatan HAM
Kontributor
Syahrain F.
20 April 2018, 22:39 WIB
KTT Minoritas Muslim Tetapkan Islamofobia Kejahatan HAM
Poster bernada Islamofobia. FOTO: Via DW/Ralph Goldman

RILIS.ID, Ankara— Pertemuan minoritas Muslim dunia yang diadakan selama empat hari di Istanbul ditutup pada Kamis (19/4/2018) dengan deklarasi bahwa Islamofobia harus dikategorikan sebagai tindakan kriminal terhadap kemanusiaan.

KTT Minoritas Muslim dunia itu digelar dengan tujuan membahas masalah-masalah yang dihadapi minoritas Muslim dan memikirkan solusi yang tepat. Acara itu dimulai pada Senin (16/4) dan dihadiri 211 peserta dari 103 negara.

Acara itu diorganisir oleh Direktorat Urusan Agama Turki dan mengundang akademisi Muslim, aktivis, jurnalis, dan penulis yang bisa menjembatani hubungan antara Turki dan komunitas-komunitas minoritas Muslim dunia.

Pada pertemuan itu, partisipan juga membahas perlunya menggenjot kerja sama dalam hak pendidikan dan layanan agama.

Islamofobia
Deklarasi final untuk menutup KTT itu mengatakan semua tindakan diskriminasi terhadap minoritas karena kewarganegaraan, gender, ras, budaya, agama, atau bahasa termasuk sebagai kejahatan kemanusiaan.

Islamofobia digambarkan sebagai "masalah HAM" dan melibatkan kepentingan sendiri dan rasisme.

Mereka mengatakan orang yang mengait-ngaitkan Islamofobia dengan hawa politik saat ini ingin memajukan kepentingan sendiri dari perdebatan dan perselisihan yang muncul di antara berbagai budaya, komunitas, dan agama.

Deklarasi itu juga menyatakan Islamofobia bertujuan menabur kebencian di antara warga dari berbagai latar belakang, "maka harus dianggap sebagai kejahatan kemanusiaan".

Yerusalem
Pernyataan itu juga mengecam keras dan menolak "sikap yang tidak bertanggung jawab" di balik pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota negara penjajah.

"Bagi semua umat Islam, Yerusalem adalah ibu kota Palestina selamanya," bunyi deklarasi itu.

Pada 6 Desember 2017, Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan kemudian dicerca dunia dan disambut demonstrasi massal di kawasan Palestina.

Yerusalem tetap menjadi pusat konflik Israel-Palestina, dengan Palestina yang mengharapkan Yerusalem Timur -- saat ini masih diduduki Israel -- menjadi ibu kota negaranya kelak.

Daesh, Boko Haram, Al-Shabaab
KTT itu mencap kelompok-kelompok Daesh, Boko Haram, Al-Shabaab dan lainnya sebagai "kelompok teror boneka", yang lahir dari perebutan kekuasaan dan konspirasi global.

"Kelompok-kelompok teror boneka ini menghancurkan kota-kota dan peninggalan sejarah, budaya, estetika, dan arsitektur dari peradaban Islam," lanjut pernyataan itu. "Mereka hanya membawa darah dan penderitaan di negara-negara Muslim."

Mereka mengtakan kelompok ini mencuci otak anak-anak muda di komunitas pengungsi dan minoritas guna merekrut mereka.

Kerja sama antar umat Muslim adalah "kewajiban kunci" untuk mencegah hal itu.

Sumber: Anadolu Agency


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)