logo rilis
KRPI Perjuangkan Nasib Buruh dengan Cara Beradab
Kontributor
Sukma Alam
01 Mei 2018, 13:17 WIB
KRPI Perjuangkan Nasib Buruh dengan Cara Beradab
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI) akan memperjuangkan nasib buruh dengan cara beradab. Hal ini disampaikan Ketua Umum Rieke Diah Pitaloka dalam aksinya saat mengikuti peringatan May Day di depan Patung Kuda, Monas, Jakarta, Selasa (1/5/2018).

"Aksi kita tidak marah-marah kita berjuang dengan gembira karena kita semua berjuang dengan ikhlas," kata Rieke.

Disambut dengan riuh tepuk tangan, anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDIP ini mengakui,  May Day diperingati pekerja atau buruh oleh seluruh dunia. Oleh karena dalam peringatan May Day di Indonesia juga turut bergabung dari  buruh migran Indonesia yang bekerja di luar negeri. 

Apalagi anggota KRPI juga terdiri dari berbagai sektor lainnya seperti dari industri, perawat, buruh pelabuhan dan pekerja seni. Tidak heran dalam peringatan May Day kali ini dilakukan dengan kegiatan Karnaval Budaya. 

"Karena kita pekerja yang di semua sektor. Ada juga pekerja seni dari tanjidor ikut bergabung," paparnya.

Rieke menuturkan, dalam perjuangannya, KRPI meminta agar pemerintah memperhatikan nasib pekerja. Karena itu, KRPI berjuang agar Indonesia menjadi bagian dari negara industri yang berbasis pada riset nasional. 

Pembentukan Badan Riset Nasional untuk melakukan kajian problematika industri yang dialami pengusaha dan buruh pun perlu dilakukan.

"Dalam negara industri ini kita memposisikam rakyat Indonesia sebagai subyeknya. Jadi tidak sepotong-potong karena kami yakin tidak mungkin Indonesia maju tanpa industri yang maju, tidak mungkin buruh maju tanpa industri yang maju. Tidak mungkin industri maju tanpa buruh maju. Tidak mungkin industri kuat tanpa buruh yang kuat. Tidak mungkin buruh kuat tanpa industri yang kuat," paparnya.

Lebih lanjut, Rieke juga memaparkan, untuk mewujudkan kesejahteraan buruh KRPI juga menerapkan Tri Layak tanpa harus anti terhadap pekerja asing. 

Tri Layak yaitu Kerja Layak, Upah Layak dan Hidup Layak. Dengan Tri Layak tersebut maka hasil industri dalam bentuk jasa dan barang akan terserap oleh pasar karena adanya daya beli masyarakat yang baik yang notabene karena daya beli pekerja yang baik. 

Dengan Tri Layak maka negara akan mendapat pajak dari pekerja dari Pph 21. 

"Dengan Tri Layak, secara sosiologis akan tercipta kesenangan bekerja sehingga akan berkorelasi positif pada peningkatan produktivitas bekerja. Peningkatan produktivitas tentunya akan meningkatkan kinerja industri kita," paparnya.


500
komentar (0)