logo rilis
Kritik yang Memberikan Solusi, Mahluk Apa Itu?
Kontributor
Yayat R Cipasang
30 April 2018, 17:30 WIB
Kritik yang Memberikan Solusi, Mahluk Apa Itu?
ILUSTRASI: Hafiz

RILIS.ID, Jakarta— Pada zaman Orde Baru dikenal dengan istilah 'kritik yang membangun' dan pada era pemerintahan Jokowi mulai populer sebutan 'kritik yang memberikan solusi'. Tidak jelas persis kedua istilah itu memiliki makna yang sama atau justru berbeda?

Tapi yang pasti, kedua rezim itu sama-sama merasa terganggu dengan kritik yang dilontarkan masyarakat dan oposisi. Malah belakangan masyarakat dituntut penguasa dan juga partai yang merasa berkuasa agar kritik juga disertai data dan fakta.

Analis politik komunikasi politik Effendi Gazali menilai terlalu berlebihan bila rakyat mengkritik pemerintah harus disertai solusi. "Mengkritik saja berat apalagi harus diserta solusi," kata Gazali dalam sebuah perbincangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, baru-baru ini.

"Bila kita mengkritik kenaikan harga bahan pokok di Palopo sana sangat berat bila kita harus memberikan solusi karena yang bisa mengintervensi harga hanya pemerintah," tambah Gazali.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto juga yang merasakan sebagai pihak oposisi selama sepuluh tahun rupanya alergi juga dengan kritik yang dilontarkan masyarakat dan oposisi kepada rezim Jokowi. Seharusnya sebagai mantan oposan, Hasto juga mengaca diri bahwa tidak selamanya kritik itu harus belandaskan data karena masyarakat hanya punya 'rasa'.

Yang punya data itu lembaga survei bayaran. Atau lembaga penyuplai data statistik penuh rekayasa. Mereka itu yang punya data. Rakyat tidak punya akses pada data. Jadi apa urusannya rakyat dengan data?

Rasa itu tidak pakai data. Rasa itu subjektif. Masyarakat berhak mengatakan bahwa sekarang merasakan harga-harga naik atau masyarakat juga boleh mengatakan rezim ini tidak berpihak kepada rakyat kecil. Masyarakat merasakan mencari pekerjaan itu semakin susah. Siapa yang bisa mengintervensi 'rasa' di masyarakat?

Sangat lucu bila Hasto yang dulu getol mengkritik Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono gerah dengan kritik. Apalagi Hasto malah balik menyerang pribadi pengkritik. Misalnya dalam kasus Prabowo Subianto.

Hasto menyindir Prabowo mengurus perusahaannya saja bermasalah. Ia menyarankan mantan Danjen Kopassus itu untuk introspeksi diri terlebih dahulu, sebelum melakukan kritikan.

"Beliau (Prabowo) mengelola perusahaannya juga masih beberapa menjadi persoalan. Jadi sebaiknya, pemimpin itu berbicara berdasarkan prestasi ya," ujarnya di Jakarta, Senin (30/4/2018).

Hasto menilai, kritik yang dilakukan Prabowo didasari emosional terhadap pemeritahan Presiden Joko Widodo. Seharusnya, kata dia, kritik harus disertai data dan fakta di lapangan.

"Menjadi pemimpin itu bicara berdasarkan kinerja, bukan berdasarkan karena tidak suka," tegasnya.

Tuan Hasto, mengkritik itu berat. Bila benar Prabowo bermasalah dengan perusahaannya apakah Anda bisa memberikan solusi untuk memperbaiki perusahaan Prabowo? Itukah kritik yang pakai data dan memberikan solusi yang Anda agung-agungkan?

Anda sungguh naif.

 


500
komentar (0)