logo rilis

Kritik Fahri Hamzah ke Jokowi soal 'Game of Thrones' Dinilai Tak Tepat
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
16 Oktober 2018, 10:30 WIB
Kritik Fahri Hamzah ke Jokowi soal 'Game of Thrones' Dinilai Tak Tepat
Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah. FOTO: RILIS.ID

RILIS.ID, Jakarta— Kritik Fahri Hamzah kepada Presiden Joko Widodo yang mengutip serial fiksi seperti 'Game of Thrones' dalam forum internasional IMF-WB dinilai wajar. Meskipun dianggap tidak tepat.

Fahri meminta agar Jokowi lebih mengedepankan kutipan-kutipan mengacu perjuangan dan sejarah bangsa Indonesia. Seperti perjuangan Majapahit dan Sriwijaya.

"Apa yang disampaikan Pak Jokowi sudah pas, di moment yang tepat, karena itulah masyarakat dan dunia menilainya positif. Tidak ada yang salah dari pidato itu," kata pengamat politik dari Universitas Al Azhar Jakarta, Ujang Komarudin, kemarin.

Menurut dia, IMF-WB adalah forum ekonomi. Jadi, pidato Jokowi memang melihat moment serta tempatnya. Jangan sampai pada forum Ekonomi malah membahas hal lain.

Jokowi ini, kata Ujang, melakukan hal yang tidak biasa dilakukan pemerintah. Di mana selama ini selalu tergambar formal dalam pidato kenegaraan. Selain menarik, apa yang disampaikan Presiden juga sangat kekinian. Inilah yang jadi daya tarik Jokowi.

"Dia (Pak Jokowi) ingin menggambarkan pidato yang memang didengar negara lain. Menjadi inspirasi sekaligus kritik kepada dunia dalam konteks ekonomi internasional," ungkapnya.

Namun, kritik yang disampaikan kubu Prabowo-Sandiaga lewat Fahri Hamzah atas berbagai sikap serta langkah Presiden Jokowi merupakan hal wajar. Karena, kompetitor mereka adalah pihak petahana yang harus terus disoroti track record-nya. Makanya, narasinya kritik.

Direktur Ekskutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menilai, dalam kamanye politik memang tidak lepas dari tiga model. Yakni, kampanye positif, negatif dan kampanye hitam.

"Kalau kampanye hitam itu yang tidak boleh, karena ini berkaitan dengan berita hoaks," kata Karyono.

Pilpres 2019 ini adalah persaingan antara dua pasang calon, yakni head to head. Jadi, bila ada kritik dari pihak oposisi ke kubu petahana, pasti akan menimbulkan contrasting.

"Harus selalu menyerang. Kalaupun ada berita yang mendapat tanggapan positif, akan dicari kelemahannya. Cenderung bangun sisi kontra," ungkap dia.

Namun, cara-cara tersebut tak selalu efektif. Semua bergantung pada narasi yang mereka bangun. Malah, kalau salah langkah akan jadi blunder politik bagi mereka.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)