logo rilis

Krisis Pakan Ayam, Fadli Zon: Indonesia Darurat Jagung
Kontributor
Yayat R Cipasang
12 Oktober 2018, 18:58 WIB
Krisis Pakan Ayam, Fadli Zon: Indonesia Darurat Jagung
Ketua DPN HKTI Fadli Zon. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Umum DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menyebut negeri ini tengah mengalami darurat jagung. Sudah hampir tiga bulan, peternak ayam (terutama peternak ayam petelur) mengalami krisis pakan jagung. Selain ketersediaannya yang nyaris sulit ditemukan dipasaran, harga jagung juga melambung tinggi tak terjangkau. 

“Kondisi para peternak sudah sangat mengkhawatirkan dan sangat berbahaya dampaknya secara jangka panjang,” kata Fadli Zon dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (12/10/2018) malam.

Dalam catatan Fadli, harga jagung sudah menyentuh harga Rp5.000-Rp5.300/kg. "Padahal harga acuan di tingkat petani Rp3.150/kg dan di tingkat konsumen Rp4.000/kg,” kata Wakil Ketua DPR ini.

Dengan harga tersebut, pasokan jagung juga minim. "Padahal komponen utama pakan ayam petelur adalah jagung," ujarnya. 

Dari informasi di lapangan, beberapa sentra pertanian jagung di Jawa Timur memang sedang panen, seperti di Tuban, Nganjuk, dan Trenggalek. Namun hasil panen tersebut tak dapat dirasakan para peternak ayam petelur di Blitar dan sekitarnya karena sudah diserap pabrik pakan ternak (feed mill).

"Jadi hasil panen langsung diambil feed mill karena sebelumnya sudah ada kontrak pembelian dengan petani. Para peternak ayam petelur rakyat yang juga kemampuan (secara kuantitas dan keuangan) membeli jagung kecil, tidak kebagian. Jadi betul ada panen jagung di sentra pertanian jagung tapi para peternak ayam petelur rakyat tidak kebagian,” ujar Fadli.

Kondisi ini, lajut Wakil Ketua Umum Gerindra, diperparah dengan harga telur yang anjlok di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Informasi dan laporan yang diterima HKTI per 9 Oktober 2018, harga telur di sentra peternakan ayam petelur rakyat di Blitar sebesar Rp16.000-Rp16.300/kg. 

“Harga ini jauh di bawah harga acuan farm gate Rp18.000-Rp20.000 sebagaimana hasil revisi harga yang ditetapkan Kemendag. Peternak merugi dobel yaitu harga pakan naik di satu sisi sedang harga telur anjlok di sisi lain. Ibarat sudah jatuh babak belur, tertimpa tangga pula,” tegas Fadli.

Sulit dan mahalnya harga pakan jagung membuat para peternak ayam petelur rakyat di Blitar terpaksa melakukan afkir dini ayam ternaknya. Ini menjadi reaksi awal untuk mengurangi kerugian yang semakin dalam dan untuk bertahan hidup. 

“Afkir dini menjadi reaksi logis dan natural menghadapi kesulitan pakan dan kerugian yang terus mendera peternak ayam petelur. Mereka bertahan hidup tidak gulung tikar saja sudah hebat dengan menyigi kondisi seperti sekarang ini,” tegas Fadli.

Kondisi ini bila terus berlanjut, dalam pandangan HKTI, akan sangat membahayakan produksi dan tata niaga perteluran nasional. 

“Rangkaian dampak dari sulit dan mahalnya pakan jagung, bila terus berlangsung maka bukan tak mungkin akan berujung pada luluhlantaknya peternakan ayam petelur rakyat, meningkatnya pengangguran di desa sentra peternakan, dan krisis telur nasional. Dan ini dipastikan akan mengganggu ekonomi nasional,” kata Fadli.

Menurut Fadli, untuk membangun kembali peternakan ayam petelur rakyat akan sangat sulit dan butuh waktu panjang. Sangat disayangkan bila hal ini harus terjadi. Karenanya menurut Fadli, HKTI mendesak pemerintah untuk mengalokasikan hasil panen jagung sejumlah kebutuhan para peternak ayam petelur rakyat dengan harga sesuai acuan pemerintah, Rp4.000. 

"Jaminan alokasi dan harga ini harus ditetapkan dan dipenuhi pemerintah melalui Bulog untuk waktu sepanjang tahun. Pemerintah harus menjamin ketersediaan pakan sesuai kebutuhan para peternak dengan harga sesuai acuan pemerintah selama sepanjang tahun,” ujar Fadli.

Menurut Fadli, bila saat ini tengah surplus atau ada panen jagung, Pemerintah diharapkan tidak mengekspor ke negara tetangga tetapi menprioritaskan terlebih dahulu kebutuhan para peternak ayam petelur rakyat. 

“Kalau ada surplus atau ekspor jagung maka sebaiknya ekspor distop dulu untuk penuhi kebutuhan pakan jagung para peternak. Jangan kita dapat untuk dari ekspor tapi sebagian rakyat kita ekonominya morat marit karena ekspor tersebut. Harus dahulukan kepentingan nasional,” tegas Fadli.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)