logo rilis
Krisis Epistemologi
Kontributor

28 Maret 2018, 00:26 WIB
Krisis Epistemologi

MUNCULNYA beberapa kejadian akhir-akhir ini agak mengerutkan dahi. Mulai dari fenomena pembenaran yang brutal terhadap yang kontradiktif, memaksakan yang salah untuk diakui, pengkafiran diantara sesama, memaksakan salah satu ideologi yang diyakini. Bahkan yang bukan ahlinya mengumbar ketidaktaunya untuk memperlihatkan eksistensinya.

Hal tersebut, banyak kalangan yang mengatakan sebagai fenomena krisis post truht dan epistemologi yang menunjukan kenjongkokan ESIQnya. Sehingga wajar kearifan tidak muncul dalam beragama dan bersosial. Tubuh spritual dan sosial manusia megalami kemarau yang sangat membutukan asupan air yang menyejukan. Fenomena ini seolah-olah mengafirmasi pendapat yang sering kita utarakan bahwa beragama tidak hanya karena yakin karena yakin, beragama mestinya dengan pengetahuan dan rasio sebagai variabel untuk melakukan pengujian dan gugatan-gugatan terhadap sesuatu yang diangap tidak rasional sehingga kebenaran akan mutlak adanya.

Namun gagasan ini sering dinilai oleh beberapa kalangan bahwa beragama dengan rasional itu sama dengan meng-akal akali ketetapan. Padahal rasional adalah instrumen untuk menghadirkan pertanyaan dan menguji tentang kebenaran itu sendiri. Dalam beragama banyak aspek yang memaksa kita untuk yakin karena yakin, sehingga peran rasional harus cuti panjang. Bahkan tidak diberikan ruang untuk berperan. Maka wajar bila peran akal tidak diberikan kemerdekaan yang muncul adalah keyakinan keyakinan semu.

Berapa juta orang di negeri ini yg akalnya lumpu dan tidur nyeyak mengikuti metafisis yang tidak jelas kebenaranya. Kehadiran Epistemologi dari timur dimana didalamya juga kental dengan metafisis sebagai sumber pengetahuan tidak serta merta harus menjadi tamu agung yang mengkooptasi peran rasional. Kehadiranya harus dikritisi, harus di uji dipublik, dimurnikan dari tafsir tafsir sumir agar kebenaranya terjaga.

Banyak kalangan yang membunuh sendiri pengetahuannya karena dogma dogma yang menjelma menjadi misteri penghibur dan ancaman, Seolah agama adalah transaksional. Lebih dari itu banyak fenomena muncul di publik bahwa dengan metafisika agama akan menghadirkan keuntungan materi dan kebahagian dalam artian agama telah di kapitalisasi.

Mestinya kita harus bersyukur pada para penyuci diri dimana mereka memaknai agama bukan hanya sekedar yakin karena yakin, mereka beragama tidak hanya dengan ego perasaan meraka secara total memerankan rasional untuk berikhtiar secara total dalam menempatkan agama sebagai sumber segalah pengetahuan, dengan kearifanya segala aspek didalamnya dikritisi dan diuji kebenaranya. Namun upaya pensucian selalu dihadapkan dengan ancaman ancaman bahkan nyawapun jadi korban.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID