logo rilis

KPU Tak Bisa Meloloskan Ma'ruf Amin bila Bermasalah di Tes Kesehatan
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
13 Agustus 2018, 23:00 WIB
KPU Tak Bisa Meloloskan Ma'ruf Amin bila Bermasalah di Tes Kesehatan
Peluncuran Bank Wakaf Mikro oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. FOTO: Humas OJK

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin mengatakan, KPU dan Bawaslu tidak bisa meloloskan Ma'ruf Amin bila hasil pemeriksaan kesehatan ternyata tak memadai untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo. 

Karena, menurut Said, syarat sehat jasmani dan rohani merupakan perintah konstitusi dalam Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.

"Artinya, syarat kesehatan adalah salah satu syarat pokok bagi capres-cawapres," kata Said melalui siaran persnya kepada rilis.id, Senin (13/8/2018). 

Said melanjutkan, kalau nanti hasil pemeriksaan Ma'ruf memang benar-benar sehat secara jasmani dan rohani, maka tidak ada pihak manapun yang boleh menghambat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu untuk menjadi cawapres Jokowi. 

"Tetapi sebaliknya, jika Ma'ruf memang sungguh-sungguh tidak memenuhi syarat konstitusi tersebut, KPU harus membatalkan Ma'ruf dan meminta parpol pengusung Jokowi untuk menggantinya dengan calon yang lain," ujarnya.

Said mengungkapkan, saat ini muncul kekhawatiran dari sebagian masyarakat terkait kemungkinan adanya penjegalan terhadap Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi. Salah satunya, melalui proses tes kesehatan.

Untuk itu, ungkap Said, masyarakat yang merasa khawatir tersebut bisa menyampaikan aspirasinya ke KPU dan Bawaslu.

"Walaupun pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh pihak rumah sakit, tetapi pemutus akhir atas keterpenuhan syarat kesehatan Ma'ruf adalah KPU," ungkap Said. 

"Jadi kalau benar ada pihak-pihak yang coba ingin menjegal Ma'ruf dalam tes kesehatan, ada KPU dan Bawaslu yang akan membentengi," pungkasnya.

Editor: Elvi R


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)