logo rilis
KPK Sebut Keterlibatan Puan dan Pram Sulit Dibuktikan
Kontributor
Tari Oktaviani
08 April 2018, 03:02 WIB
KPK Sebut Keterlibatan Puan dan Pram Sulit Dibuktikan
Agus Rahardjo. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Pernyataan terdakwa kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP) Setya Novanto (Setnov), bahwa ada aliran dana yang mengalir pada politisi PDIP Puan Maharani dan Pramono Anung, sulit dibuktikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan, kondisi tersebut lantaran tidak ada alat bukti yang dapat ditunjukan Setnov. "Tidak ada alat bukti yang spesifik yang ditunjukkan sama dia, ya gimana?" ungkapnya di Jakarta, Minggu (8/4/2018).

Meskipun begitu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus mengusut dugaan tersebut. Menurut Agus, hal itu didalami kepada Made Oka Masagung yang juga merupakan tersangka dugaan korupsi e-KTP.

"Semua yang ada di pengadilan, pasti ditanyakan. Saya nggak tahu secara spesifik apa ada pertanyaan terkait itu, tapi semua yang ada di pengadilan ditanyakan, kan penyidik punya data soal peran dia (Oka). Kemudian, dalam perannya itu berhubungan dengan siapa saja," katanya.

Kendati demikian, Agus berujar pemeriksaan terhadap Made Oka tidak spesifik, hanya mendalami aliran dana kedua politisi PDIP, yang saat ini berada di dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia mengatakan, banyak hal yang didalami penyidik dari rekan pengusaha Setnov itu.

"Tidak spesifik ya," paparnya.

Sebelumnya, terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP Setynov mengatakan, petinggi fraksi PDI Perjuangan kala itu juga ikut kecipratan duit hasil dugaan korupsi. Hal itu, ia ketahui dari keterangan pengusaha Made Oka Masagung.

"Waktu itu, ada pertemuan di rumah saya yang dihadiri oleh Oka dan Irvanto, di sana saya berikan ke Puan Maharani US$500 ribu dan kepada Pramono Anung US$500 ribu (Rp6,877 miliar)," ungkap Setnov dalam sidang di pengadilan tindak pidana korupsi Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Mendengar itu, hakim pun memastikan kembali pada Setnov melalui Ketua Majelis Hakim Yanto, yang menanyakan siapa yang memberikan uang kepada dua orang politisi PDIP tersebut.

"Itu keterangan anda?," tanya hakim Yanto.

"Itu keterangan beliau, keterangan Pak Oka," jawab Novanto.

Ia sendiri merasa heran sebab, saat Oka menjadi saksi di persidangan, ia mengaku lupa telah menampung uang e-KTP. Namun begitu, Setnov kembali mempertegas terkait rekaman percakapan yang diputar jaksa beberapa waktu lalu bukan terkait e-KTP.

Editor: Intan Nirmala Sari


500
komentar (0)