logo rilis
KPK Periksa Lagi Saksi Kunci Kasus Bakamla
Kontributor
Tari Oktaviani
16 Mei 2018, 13:32 WIB
KPK Periksa Lagi Saksi Kunci Kasus Bakamla
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafiz Faza.

RILIS.ID, Jakarta— Saksi kunci kasus dugaan suap pengadaan satelit monitoring oleh Bakamla RI kembali dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia adalah Direktur Utama PT Viva Kreasi Investindo, Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi.

Ali Fahmi sudah kesekian kalinya dijadwalkan pemeriksaan di KPK. Namun, ia selalu mangkir dan tidak diketahui keberadaannya. Sedianya Ali yang juga Staf Khusus (Stafsus) Kepala Bakamla, Arie Soedewo tersebut akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap pembahasan dan pengesahan proyek Satelit Monitoring (Satmon) di Bakamla.

"Yang bersangkutan diperiksa untuk tersangka FA (Fayakhun Adriadi)," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Rabu (16/5/2018).

Tak hanya Ali Fahmi, KPK juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap Wakil Ketua Perekonomian DPD Golkar, Sugandhi Bakrie, Bagian Tata Usaha Tenaga Ahli di Sekretariat DPR RI Yanti, serta PNS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapennas), Rizky.

"Ketiganya juga akan diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk tersangka," katanya.

Dalam kasus ini, Fayakhun telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pembahasan anggaran proyek pengadaan alat satmon pada Bakamla tahun anggaran 2016.

Fayakhun diduga menerima ‎hadiah atau janji berupa uang setelah memuluskan anggaran proyek Bakamla. Dia mendapatkan imbalan 1 persen dari proyek senilai Rp1,2 triliun atau sebesar Rp12 miliar.

Selain itu, Fayakhun juga diduga menerima dana suap sebesar 300 ribu Dollar Amerika. Uang tersebut diduga diterima Fayakhun dari proyek pengadaan di Bakamla.

Sejumlah uang yang diterima Fayakhun tersebut berasal dari Direktur Utama Melati Technofo Indonesia (PT MTI), Fahmi Dharmawansyah melalui anak buahnya, M. Adami Okta. Uang tersebut diberikan dalam empat kali tahapan.

S‎elain Fayakhun, KPK menduga terdapat juga sejumlah nama anggota DPR yang disebut menerima suap terkait proyek pengadaan alat satmon pada Bakamla.

Mereka yakni, politisi PDI Perjuangan, TB. Hasanuddin dan Eva Sundari; Politikus Golkar, Fayakhun Andriadi; serta dua Politikus NasDem, Bertus Merlas dan Donny Priambodo.

Hal tersebut terungkap ketika Direktur PT Melati Technofo Indonesia (PT MTI), Fahmi Darmawansyah bersaksi untuk terdakwa mantan pejabat Bakamla, Nofel Hasan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, beberapa waktu lalu.

Editor: Sukardjito


500
komentar (0)