logo rilis
KPK Imbau Suami dan Mertua Dian Sastro Penuhi Panggilan Penyidik
Kontributor
Tari Oktaviani
05 April 2018, 08:24 WIB
KPK Imbau Suami dan Mertua Dian Sastro Penuhi Panggilan Penyidik
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafiz Faza.

RILIS.ID, Jakarta— Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya tak main-main dalam mengusut keterlibatan keluarga Sutowo dalam kasus suap pengadaan mesin Garuda Indonesia.

Hari ini, penyidik memanggil Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi, Maulana Indraguna Sutowo dan ayahnya Adiguna Sutowo sebagai saksi untuk tersangka Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar (ESA).

Juru Bicara KPK Febri Diansyah memastikan mertua dan suami artis Dian Sastrowardoyo itu akan kembali dipanggil KPK.

"Apakah di minggu kedua atau minggu ketiga di bulan April ini. Tapi nanti kami sampaikan lagi informasinya," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Kamis (5/4/2018).

Lebih jauh, Febri mengingatkan agar suami dan mertua dari artis film 'Ada Apa Dengan Cinta?' bersikap kooperatif dengan memenuhi panggilan penyidik. Termasuk bersedia menjelaskan peran PT Mugi Rekso Abadi (MRA) dalam dugaan korupsi pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

"Harapannya kalau besok minggu depan atau minggu ketiga april dilakukan pemeriksaan para saksi bisa datang dan menjelaskan apa yang dia ketahui terkait dengan MRA tersebut," ujarnya.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi sekaligus Beneficial Owner Connaught International Pte Ltd Soetikno Soedarjo sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Emirsyah Satar diduga menerima suap dari Rolls-Royce, perusahaan mesin asal Inggris, berupa uang dan aset yang diberikan melalui Soetikno Soedarjo. Suap diberikan Rolls-Royce terkait pengadaan pesawat dan 50 mesin pesawat Airbus A330-300 untuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada periode 2004-2015.

Editor: Sukardjito


500
komentar (0)