logo rilis

KPK Buru Dua Terduga Kasus Suap Labuhan Batu
Kontributor
Tari Oktaviani
20 Juli 2018, 20:29 WIB
KPK Buru Dua Terduga Kasus Suap Labuhan Batu
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memburu beberapa pihak yang diduga terlibat kasus suap sejumlah proyek di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara. Adapun yang terbaru, penyidik melakukan pencarian terhadap Afrizal Tanjung selaku Direktur PT Peduli Bangsa (PB).

Menurut Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Afrizal berperan sebagai pihak yang mencairkan cek di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumut.

"KPK sedang melakukan pencarian terhadap saksi Afrizal Tanjung," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jumat (20/7/2018).

Afrizal sendiri merupakan orang kepercayaan Effendy Syahputra selaku pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi (BKA). Afrizal diduga menjadi pihak yang membantu Effendy mencairkan cek Rp576 juta di BPD Sumut.

Dari pencairan Rp576 juta, Afrizal mentransfer Rp16 juta ke rekening dirinya dan Rp61 juta ditransfer ke rekening Effendy. Kemudian sisanya sekitar Rp500 juta dititipkan kepada petugas bank.

Selain memburu Afrizal, tangan kanan Bupati, Umar Ritonga juga belum berhasil ditemukan. Untuk itu Febri meminta agar siapapun termasuk pihak keluarga Umar bisa membujuk yang bersangkutan untuk menyerahkan diri ke KPK.

"Imbauan ini berlaku sampai Sabtu, 21 Juli 2018. Jika tidak KPK akan memproses penerbitan DPO untuk yang bersangkutan," kata Febri.

Adapun uang sekitar Rp500 juta itu diambil oleh Umar Ritonga. Ia mengambilnya dari petugas bank yang dititipkan oleh Afrizal. Saat hendak ditangkap tim penindakan KPK, Umar kabur.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap sebagai tersangka kasus dugaan suap proyek-proyek di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara.

Selain Bupati Pangonal, KPK juga menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka. Yakni Umar Ritonga selaku pihak swasta dan Effendy Syahputra selaku pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi (BKA).

Bupati Pangonal dan Umar Ritonga diduga menerima suap dari Effendy melalui beberapa perantara sebesar Rp576 juta. Namun uang tersebut masih belum disita oleh tim penindakan KPK.

Tim penindakan hanya menyita bukti transfer. Menurut KPK, bukti transaksi sebesar Rp576 juta dalam kegiatan ini diduga merupakan bagian dari pemenuhan dari permintaan Bupati Panganol sekitar Rp3 milyar. 

Adapun, uang Rp576 juta yang diberikan Effendy kepada Pangonal melalui Umar Ritonga bersumber dari pencairan dana pembayaran proyek pembangunan RSUD Rantau Prapat, Labuhanbatu.

Editor: Elvi R


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)