Dadang Rhs

Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID

Korupsi, Musuh Abadi di Urat Nadi

Selasa, 17/10/2017 | 18:06

PRESIDEN Joko Widodo menegaskan posisinya terhadap korupsi. "Kita harus menjaga KPK. Korupsi adalah kejahatan luar biasa." Demikian cuitan Presiden. Cuitan ini dikicau ulang sepuluh ribu kali lebih, dan disuka lebih dari 16 ribu akun Twitter.

Cuitan Presiden adalah respons atas situasi. Hari ini di ruang publik tampil dua kekuatan yang tampak saling berhadapan. KPK di satu pihak. Dan, DPR via Pansus KPK di seberang pihak.

Korupsi memang seperti musuh dalam selimut kekuasaan negeri ini. Ia adalah benang kusut yang hingga hari ini tak kunjung terurai.

Kejahatan korupsi telah mencemari niat suci para pendiri Republik. Korupsi membuat kemerdekaan tak lagi menjadi jembatan emas bagi segenap rakyat. Korupsi adalah pengkhianatan langsung atas amanat penderitaan rakyat. Korupsi adalah musuh abadi yang ada di urat nadi negeri ini.

Korupsi, merupakan kejahatan terhadap orang banyak, penyalahgunaan wewenang publik untuk kepentingan privat.

Rezim Orde Baru, 19 tahun lalu, runtuh karena gerakan Reformasi. Gerakan ini disemangati oleh perlawanan rakyat terhadap Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

Gerakan Reformasi dengan semangat anti-KKN adalah sebuah penanda. Bahwa, bangsa ini pernah mengukuhkan (kembali) penolakan atas korupsi. Bahwa, korupsi adalah musuh bagi amanat penderitaan rakyat. Bahwa, korupsi adalah kejahatan yang luar biasa. Dan, dapat membuat bangsa binasa.

Gelombang protes yang disemangati gerakan anti-KKN ini memaksa Jenderal Besar Soeharto lengser dari singgasana dan memilih "mandeg pandito".

Setelah Reformasi, para aktivis anti-KKN kini telah mengisi pelbagai posisi di negeri ini. Tak sedikit dari mereka kini menempati posisi strategis, baik itu di pemerintahan, partai politik, lembaga tinggi negara, peneliti, atau organisasi non-pemerintah. Sebagai pelaku gerakan Reformasi, tentu publik berharap, mereka tetap menjunjung amanat Reformasi yang dulu diperjuangkan.

Presiden Joko Widodo, sebagai kepala negara, telah mengambil posisi. Ia tak ingin ada pihak-pihak yang melemahkan pemberantasan korupsi.

Sikap Presiden ini memang ditunggu publik. Bahwa, Presiden secara terbuka menyatakan akan memimpin langsung perang melawan korupsi, yang ia sebut sebagai kejahatan luar biasa.

Sebagai kejahatan luar biasa, korupsi pasti tak sama dengan pencuri mangga di pekarangan tetangga. Frasa kejahatan luar biasa merujuk pada kejahatan yang terencana, sistematik, dan terstruktur.

Lantas, siapa pihak-pihak yang ingin melemahkan pemberantasan korupsi yang dimaksud oleh Presiden ini?

Agar tak terperangkap dalam prasangka dan salah duga, pemberantasan korupsi haruslah semesta. Karena, kadang panggung muka acap tak selamanya sama dengan panggung belakang.

Retorika KPK di satu pihak, dan DPR via Pansus KPK di pihak lain, sesungguhnya suara dalam nada yang sama. Keduanya menyatakan ingin memberantas korupsi.

Pada posisi ini, konflik KPK versus Senayan akan menarik dan maslahat. Silang pendapat ini bisa menjadi alat uji kesungguhan pemberantasan korupsi. Dengan semangat ini, publik dapat menyaksikan secara terbuka proses saling koreksi.

Silang pendapat antara KPK dan Senayan ini, sedikitnya, telah membuka bahwa ada yang terkunci dalam ikhtiar pemberantasan korupsi. Secara dialektis, silang pendapat ini jika diniatkan dan sungguh-sungguh untuk mengurut benang kusut pemberantasan korupsi seniscayanya merupakan langkah yang positif. Bisa jadi ini akan membuka kotak pandora. Seperti kata pepatah, "bersilang kayu dalam tunggu, di sana api akan menyala."

KPK berkesempatan untuk menunjukkan bahwa ia memang sapu yang bersih. Sebaliknya, Senayan dapat membela diri dari tudingan, adanya maksud tersembunyi, ingin melemahkan KPK.

Mungkin sudah saatnya untuk terbuka, kalau perlu saling buka. Berhentilah berpura-pura. Negeri ini tak seharusnya terus terkunci oleh korupsi.

Alhasil, publik kini sedang menanti bukti. Sudahi basa-basi. Jujur itu bukan sekadar slogan. Ia tindakan. Itu baru hebat. Terima kasih.