logo rilis
Kopi Asiang dan Empat Pilar
kontributor kontributor
Yayat R Cipasang
16 September 2018, 15:05 WIB
Penulis seorang kerani dan penyelia di RILIS.ID
Kopi Asiang dan Empat Pilar
Asiang bersama sang istri menyajikan kopi untuk peserta sosialisasi Empat Pilar. FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

SUDAH lama saya mendengar Warung Kopi Asiang. Kedai kopi di Jalan Merapi, Pontianak, Kalimantan Barat, ini sudah kakoncara ke seantero Nusantara bahkan mancanegara. Tapi saya belum kesampaian menyesap kopi robusta yang diracik langsung di kota khatulistiwa tersebut.

Karena itu ketika Asiang membuka kedai dadakan dalam acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang melibatkan sekira 500 warga Kalimantan Barat di Kediaman Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang (OSO) di Jalan Karang Asem, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (15/9/2018), membuat saya surprise.

Kehadiran Asiang dalam acara itu memberikan saya kesempatan untuk menyeruput kopi khas Pontianak dalam tiga varian mulai kopi susu, kopi hitam dengan gula dan juga kopi hitam tanpa gula.

Pujian saya, kopi khas tanah gambut itu harum dan nikmat. Nyaris tak ada bedanya dengan kopi khas Jawa dan Sumatra yang banyak terpengaruh hara gunung berapi.

Pantesan orang banyak bicara tentang kopi Asiang. Kopi hitam yang memakai gula rasanya seperti Kopi Liong Bulan. Kopi yang selama ini menemani saya setiap pagi dan sore selama hampir sepuluh tahun tinggal di Kota Depok, Jawa Barat.

Maaf, bagi yang penasaran dengan Kopi Liong Bulan sepertinya harus berkunjung dulu ke Kota Depok dan Kabupaten/Kota Bogor. Karena pemasarannya hanya di sekitar itu. Sampai ke Pasar Minggu, Jakarta Selatan pun saya tak pernah menemukannya.

Seperti diceritakan oleh teman yang pernah berkunjung ke Pontianak dan menikmati kopi di kedai Asiang, sosok yang menonjol adalah seorang laki-laki paruh baya yang bertato harimau di lengan kanan dan tato perempuan di dada kanan.

Lho, kok tahu. Lha, iyalah. Asiang yang juga generasi kedua pemilik kedai yang sudah berdiri sejak 1958 ini memang sejak lama dikenal tak pernah memakai baju saat melayani pelanggannya.

Alasannya tentu sangat sederhana. Membuat kopi tiap hari juga membuat gerah. Apalagi bumi khatulistiwa yang dilewati garis tegak lurus matahari panasnya sangat menyengat.

Membuat kopi tiap hari dan melayani lebih dari seribu orang membuat peluh Asiang terus mengucur. Apalagi yang awalnya kedai buka dari pukul 04.00 hingga 13.00 WIB kini waktunya lebih panjang dari pukul 03.00 hingga pukul 17.00.

Itulah alasan rasionalnya. Tapi bagi yang suka mistis tentu punya dugaan lain. Tapi itu tak penting dibahas karena memang rasa tak bisa dibohongi.

Kedai Kopi Asiang bukan warung kopi biasa. Bukan kedai kopi hasil getok tular sebagaimana dijelaskan dalam Contagious, Why Things Catch On (Social Dynamics Group, 2013). Melebihi itu semua.

Kedai Kopi Asiang adalah wujud kehidupan yang beragam, majemuk dan toleransi. Kopi Asiang adalah bentuk yang sebenarnya dari sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan.

Di tengah kesibukan meracik kopi, Asiang pun sambil menebar senyum menyediakan waktu memenuhi permintaan emak-emak berswafoto. Mereka pun tak hirau dan tidak terganggu dengan bulir-bulir keringat yang mengucur dari dada dan punggungnya yang putih.

Menurut Wandi, generasi ketiga Warung Kopi Asiang yang tak kalah cekatan dalam meracik kopi, tak pernah terbetik untuk membuat cabang di daerah atau tempat lain. Meracik kopi di luar kandang pun, menurut Wandi, baru kali ini.

"Ini karena Ayah teman kecil Pak OSO sejak di Kayong," tutur Wandi.

Saya tidak membayangkan seorang Wandi yang imut dan usia sekira 20 tahunan mengikuti jejak ayahnya bertelanjang dada sambil melayani pelanggannya.

Wajahnya yang imut dan berdada bidang bisa-bisa memecah konsentrasi remaja putri dan emak-emak centil yang tengah mengikuti sosialisasi Empat Pilar.

Sekali lagi, tak terbayang bila emak-emak dan anaknya histeris seperti ketika pemain badminton Jonatan Christie membuka baju dan bertelanjang dada ketika meluapkan emosinya.

Heboh!




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID