logo rilis
Kopi Arabika Kerinci, Ada Rasa, Ada Harga 
Kontributor
Elvi R
10 Mei 2018, 13:30 WIB
Kopi Arabika Kerinci, Ada Rasa, Ada Harga 
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Kerinci— Bagi para penikmat kopi, sensasi rasa kopi Arabika memiliki nilai cita rasa tersendiri. Demikian juga dengan kopi Arabika asal dataran tinggi Kerinci yang mulai mendunia. Sebagai salah satu kopi dengan cita rasa terbaik dan telah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis, kopi ini mulai diminati di kancah internasional. Kualitas dari rasa kopi Arabika Kerinci berawal sejak dari kebun, selama pengolahan dan sampai penyajian untuk dinikmati.

Dari penelusuran tim peneliti BPTP Balitbangtan Jambi di sentra produksi kopi Arabika di Kecamatan Kayu Aro, Kayu Aro Barat dan Kecamatan Gunung Raya, diketahui ada beberapa cara pengolahan kopi yaitu full washed, dry hull, honey dan natural. Minat konsumen kopi tidak dipengaruhi dari empat cara pengolahan tersebut. Hasil akhir pengolahan kopi yang paling diminati konsumen hampir semuanya dalam bentuk green bean dan sebagian kecil yang bentuk roasted bean untuk permintaan khusus.

Menurut Kepala BPTP Balitbangtan Jambi Rustam, kelas mutu yang paling banyak diproduksi dan dipasarkan adalah specialty, namun beberapa juga ada yang memproduksi grade 1, cabutan dan pixel dari hasil sisa sortasi produksi specialty.

"Sejauh ini mutu green bean selalu diterima pasar, khususnya specialty, sekalipun pada proses pengolahan masih bervariasi dan hal ini terlihat dari harga yang berkisar Rp75 ribu-Rp120 ribu per kilogram" tuturnya, di Kerinci, Kamis (10/5/2018).

Araz Meilin selaku penanggung jawab kegiatan menambahkan, hasil pengolahan dengan cara natural memiliki harga lebih tinggi.

"Untuk menjaga stabilitas mutu dan daya saing di pasaran, tentu konsistensi pada setiap tahap proses pengolahan dipertahankan atau diperbaiki bagi petani pemula agar tetap diingat oleh peminat yang sudah terlanjur suka,"ujarnya.

BPTP Balitbangtan Jambi melalui kegiatan kajian mutu kopi Arabika di Kerinci mengawalinya dengan survei keragaan pengolahan yang sudah ada. Hal ini dilakukan dengan harapan agar kopi Arabika asal Kerinci punya posisi tawar diantara kopi dunia.

Sumber: Araz Meilin/Balitbangtan


500
komentar (0)