logo rilis
Kontraktor Heli AW 101 Gugat TNI AU, Ini Sikap KPK
Kontributor
Tari Oktaviani
08 Mei 2018, 08:59 WIB
Kontraktor Heli AW 101 Gugat TNI AU, Ini Sikap KPK
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafiz Faza.

RILIS.ID, Jakarta— Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merasa keberatan dengan gugatan perdata yang diajukan oleh PT Diratama Jaya Mandiri ke PN Jakarta Timur. Gugatan dengan Nomor 103/Pdt.G/2018/PN. Jkt.Tim itu berisikan permohonan ganti rugi PT Diratama Jaya Mandiri kepada TNI AU terkait pembelian helikpter AW-101. 

PT. Diratama Jaya Mandiri menggugat TNI AU agar mengabulkan sejumlah permohonan terkait pembayaran tahap III yang tidak dibayarkan sebesar Rp73,8 miliar, sebagian pembayaran tahap IV senilai Rp48,5 miliar, dan pengembalian jaminan pelaksanaan senilai Rp36,94 miliar. Menurut Juru Bicara KPK Febri Diansyah, jika gugatan itu diteruskan maka akan berdampak pada kerugian keuangan negara yang lebih besar.

"Jika pembayaran dilakukan ada risiko kerugian negara yang lebih besar nantinya. Sehingga jauh lebih baik agar perkara dugaan TPK diselesaikan terlebih dahulu," kata Febri, Selasa (8/5/2018).

PT Diratama Jaya Mandiri merupakan perusahaan milik Irfan Kurnia Saleh yang merupakan tersangkan dalam kasus dugaan korupsi pengadaan helikopter Augusta Westland (AW) 101 di TNI AU. KPK dalam hal ini akhirnya berkordinasi dengan TNI AU menghadapi gugatan tersebut.

"Terkait gugatan perusahaan tersangka IKS (Irfan Kurnia Saleh) ke TNI AU, Biro Hukum KPK juga telah berkoordinasi dengan pihak TNI AU dan mengajukan diri sebagai pihak ketiga yang berkepentingan," katanya.

Dalam kasus ini KPK sudah menetapkan lima tersangka, yakni Marsma TNI FA, Letkol WW, Pelda S, Kolonel Kal FTS, dan Marsda SB, telah diproses internal TNI. KPK  juga menetapkan satu tersangka dari pihak swasta, yakni pemilik PT Diratama Jaya Mandiri, Irfan Kurnia Saleh (IKS).

Irfan diduga mengikutsertakan dua perusahaan miliknya, PT Diratama Jaya Mandiri dan PT Karya Cipta Gemilang. Hal tersebut terjadi pada April 2016 lalu.

Sebelum proses lelang, Irfan diduga sudah menandatangani kontrak dengan AW sebagai produsen helikopter dengan nilai kontrak US$39,3 juta atau sekitar Rp 514 miliar. Saat PT Diratama Jaya Mandiri memenangkan proses lelang pada Juli 2016, Irfan menandatangani kontrak dengan TNI AU senilai Rp738 miliar.

Editor: Sukardjito


500
komentar (0)