logo rilis
Klub Inggris Leeds United Dikritik Terkait Tur Pascamusim ke Myanmar
Kontributor
Syahrain F.
25 April 2018, 17:11 WIB
Klub Inggris Leeds United Dikritik Terkait Tur Pascamusim ke Myanmar
Managing Director klub sepak bola Inggris Leeds United, Angus Kinnear, mengumumkan tur pascamusim tim itu ke Myanmar, Selasa (24/4/2018), di Yangon. Credit: EPA/Nyein Chan Naing

RILIS.ID, London— Klub Inggris Leeds United (LU) mendapat kritikan tajam usai mengumumkan rencana tur pasca-musim ke Myanmar. Rencana itu diumumkan di tengah kecaman dunia internasional atas tindakan brutal tentara Myanmar terhadap Muslim Rohingya.

LU dijadwalkan akan bertanding dengan tim all star liga nasional Myanmar di Yangon pada 9 Mei, disusul dengan pertandingan melawan Tim Nasional di Mandalay pada 11 Mei.

Dalam situs resminya, Managing Director klub itu, Angus Kinnear, mengatakan, antusias masyarakat Myanmar terhadap sepak bola menjadi salah satu alasan terpilihnya negara itu sebagai salah satu tujuan tur.

"Mereka sangat tertarik dengan sepak bola Inggris. Mereka memiliki tujuan ambisius untuk sepak bola di kalangan masyarakat dan elit (profesional),dan kita sangat senang untuk membantu," tulis Angus, kemarin (24/4/2018).

Organisasi pejuang HAM Inggris Restless Beings menyatakan, Leeds United seakan tidak memiliki solidaritas kemanusiaan seperti yang selama ini selalu menjadi slogan dalam ajang olah raga.

"Militer Burma (nama lain Myanmar) telah melakukan kejahatan kemanusiaan dan pembunuhan massal terhadap penduduk Rohingya--yang teah menyebabkan jutaan dari mereka terpaksa melarikan diri ke Bangladesh," ucap salah satu pendiri Restless Beings Mabrur Ahmad, melansir Al Jazeera.

"Menyangkut kejahatan itu, keputusan Leeds United untuk mengadakan pertandingan persahabatan dengan Burma--tanpa bersimpatik dan menunjukkan solidaritas terhadap etnis yang paling banyak mengalami persekusi, secara tidak langsung sama saja mendukung kebrutalan pemerintah Burma," ujarnya.

Lembaga non-profit asal Amerika Serikat, Dokter Tanpa Batas (Médecins Sans Frontières) mengestimasi, sebanyak 6.700 etnis Rohingya telah menjadi korban tewas akibat operasi militer brutal pada rentang waktu 25 Agustus sampai 24 September tahun lalu. Di antara korban tewas terdapat 730 anak-anak dan perempuan.

Sejumlah laporan yang dirilis berbagai organisasi kemanusiaan dan internasional menyebut adanya tindakan keji berupa pemerkosaan massal, penyiksaan, dan pembakaran permukiman warga oleh tentara Myanmar dan para ekstremis Buddha.


500
komentar (0)