logo rilis
Kita Sudahi soal Agama
kontributor kontributor
Yudhie Haryono
13 Juni 2017, 20:43 WIB
Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center
Kita Sudahi soal Agama

Sudah lama kaum beragama di seluruh jagad raya hidup dalam ketakutan. Itulah hulu fundamentalisme yang nanti beranak pinak jadi terorisme. Sedang kaum muslim di Indonesia hidup dalam ketakutan dan romantisme. Dalam sejarah panjang ketakutan dan kekalahan kaum muslim di Indonesia, romantisme arabis menggiring dalam satu kalimat proklamasi jahiliyah, "ruju' ila Alquran wa Sunnah" atau mari kita selesaikan problem peradaban dengan (cukup) bertanya pada teks (Alquran dan Hadist). Simpel sekali dan tak pernah berhasil.

Takut kalah. Takut gelap masa depan. Takut tak dapat restu Tuhan. Inilah rangkaian ketakutan yang membuat kaum muslim bersembunyi dalam teks (masa lalu) sambil menghidupi masa depan (romantisme).

Baca Juga

Tentu saja, rasa takut itu psikis dan riil. Dus, ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.

Kita bisa mencatat ada tujuh ketakutan-ketakutan manusia pada umumnya: 1)Takut pada rasa sakit. Takut ini merupakan rasa paling mendasar bagi manusia. Rasa sakit dapat diderita baik secara fisik maupun mental. 2)Takut kehilangan kebebasan. Takut ini muncul di benak setiap manusia bila menghadapi hukuman (penjara), rezim despotik, dll.

3)Takut pada sesuatu yang tidak jelas keberadaannya. Takut ini misalnya takut pada hantu, Tuhan, masa depan, kemiskinan, dll. Namun, rasa takut inilah yang telah membantu manusia untuk bertahan hidup hingga sekarang. 4)Takut pada penderitaan. Pada dasarnya manusia tidak suka melihat orang lain menderita, apakah karena kasihan, atau jijik. Namun yang paling umum adalah, karena kita tidak ingin merasakan hal yang sama.

5)Takut pada kesepian. Rasa takut ini disebabkan karena tidak adanya interaksi terhadap manusia lainnya, sendirian dan tak adanya pertolongan. 6)Takut pada kematian. Takut akan memisahkan kita dari semua hal yang kita cintai. Manusia tidak bisa begitu saja meninggalkan hidup mereka dan kematian adalah hal yang paling dihindari.

7)Takut pada kegagalan. Rasa takut ini utama bagi seluruh manusia. Tetapi, ingatlah bahwa keberanian terbesar manusia bukanlah saat mereka akan menghadapi kematian, namun ketika mereka menghadapi kegagalan terbesar dalam hidupnya.

Menghadapi ketakutan-ketakutan itu, para agamawan membangun agama sebagai cara mengatasinya. Tetapi, agama seringkali jauh lebih dipentingkan dari Tuhan. Bagaimana peristiwa kejahiliyahan ini hadir dan terus direproduksi oleh para arabis bin ontanis?

Mari kita senyum sambil tahu bahwa: 1)Kaum arabis memang tumpul nalar karena memuja teks. 2)Kaum arabis malas berpikir kritis. 3)Kaum arabis terkena megalomania yang ilusuf.

Karenanya, kita harus passing over sambil mengingat tesis Karen Armstrong. Menurutnya, asal muasal agama mereka berasal dari ketakutan pada Tuhan saja. Ia menulis dengan empati, ”Manusia tidak bisa menanggung beban kehampaan dan kenestapaan; mereka akan mengisi kekosongan itu dengan menciptakan fokus baru untuk meraih hidup yang bermakna. Itulah Tuhan. Tetapi, berhala kaum fundamentalis bukanlah pengganti yang baik untuk Tuhan; jika kita mau menciptakan gairah keimanan yang baru untuk abad keduapuluh satu, mungkin kita harus merenungkan dengan seksama sejarah Tuhan ini demi menarik beberapa pelajaran dan peringatan.”

Tentu saja, gagasan manusia tentang Tuhan bermetamorfosa menjadi gagasan manusia tentang agama. Karenanya, gagasan itu selalu mempunyai arti yang berbeda-beda bagi setiap agamawan yang menggunakannya di berbagai periode. Gagasan tentang tuhan dan agama yang dibentuk oleh manusia pada satu generasi seringkali jadi tidak bermakna bagi generasi berikutnya. Itulah mengapa agama dan Tuhan menjadi begitu banyak dan plural.

Mereka yang merasa Tuhan dan agama cuma satu dan tunggal, sesungguhnya lahir sebagai manusia yang tak baca buku dan tak pernah piknik. Kasihan sekali.

Agama pada akhirnya berkembang dan beranak pinak. Ribuan mutan hadir di mana-mana. Ada teologi, syariah, fikih, tafsir, takwil, tata negara, bisnis, fashion, futurologi bahkan percintaan. Tetapi, mutan itu seringkali membuat penganut agama lupa sama Tuhan yang sesungguhnya. Maka, agamawan menyembah agamanya, bukan Tuhannya. Agama kemudian menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi agama. Baju menjadi jiwa dan jiwa dibajukan. Inilah jejak satu tuhan banyak agama dan banyak agama menjadi banyak mutan serta banyak mutan menjadi banyak pertengkaran dan perang.

Padahal Tuhan tak pernah beragama!

Jika itu yang kita warisi, sesungguhnya kita tak lebih dungu dari para pemburu rente kapital. So, agar derajat kita lebih baik, mari bersikap dewasa dengan melampaui agama; melampaui teks; melampaui tradisi sempit kakek moyang kita. Tempatkan teks, akal dan peradaban dalam dialektika kritis emansipatoris.


#Nusantara
#kolom
#yudhie haryono
#agama
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID