logo rilis
Kisah Yaser, Jurnalis yang Terbunuh Peluru Tajam Tentara Israel
Kontributor
Syahrain F.
09 April 2018, 19:53 WIB
Kisah Yaser, Jurnalis yang Terbunuh Peluru Tajam Tentara Israel
Jurnalis Palestina, Yaser Murtaja (30), dievakuasi setelah tertembak di bagian perutnya oleh tentara Israel ketika tengah meliput aksi demonstrasi di Perbatasan Gaza, pada Jumat (6/4/2018). FOTO: Reuters/Ibraheem Abu Mustafa

RILIS.ID, Gaza— Tertembak atau ditembak mati merupakan resiko yang disadari oleh para jurnalis di medan konflik. Yaser Murtaja, seorang fotografer yang meliput demonstrasi damai Land Day di perbatasan Gaza ditembak mati dari jarak jauh oleh tentara Israel.

Ketika melakukan peliputan pada Jumat (6/4/2018) lalu, Yaser mengenakan atribut yang menandakan dirinya sebagai pekerja pers, yaitu rompi khas bertuliskan "PRESS".

Seorang rekan fotografer bernama Rushdi Serraj menceritakan detik-detik Yaser tertembak oleh peluru tajam tentara Israel. 

Yaser, yang ketika itu berdiri sekitar 270 meter dari pagar yang membatasi antara demonstran dengan tentara. Dia berupaya mendokumentasikan para demonstran yang melakukan aksi bakar ban.

Namun, tiba-tiba Rushdi mendengar Yaser berteriak merintih kesakitan.

"Tiba-tiba dia berteriak, 'saya terluka, saya terluka, perutku'," tutur Rushdi mengilustrasikan kejadian tersebut.

Para demonstran segera memberikan Yaser pertolongan sesaat setelah dirinya roboh.

"Sasarannya adalah para jurnalis," kata suadara Yaser yang bernama Motazem, yang ketika itu juga berada di lokasi kejadian.

Asosiasi jurnalis bernama Sindikat Jurnalis Palestina di Gaza mengatakan, sebanyak lima pekerja pers terluka akibat terkena peluru tajam tentara Zionis. 
Melansir dari NPR, seorang dari mereka mengalami luka parah di bagian kaki. Mereka pun mengenakan rompi yang sangat jelas menunjukkan identitas sebagai "PRESS" (pers).

Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman berdalih, Yaser tampak akan menerbangkan drone ke sisi belakang barisan tentara Israel ketika itu. 

"Anda tidak tahu mana fotografer dan mana yang bukan. Siapapun yang menerbangkan drone ke atas tentara Israel harus memahami bahwa mereka membahayakan diri mereka sendiri," ucap Lieberman.

Pernyataan Lieberman itu mengindikasikan bahwa penembakan terhadap Yaser merupakan 'perintah', bukan faktor kekeliruan mengidentifikasi sasaran.

Rekan Yaser mengungkapkan, pria berusia 30 tahun itu telah memproduksi video untuk media-media ternama seperti BBC, VICE, dan media internasional lainnya. 

Yaser dimakamkan pada Sabtu (7/4). Para penduduk Palestina mengiringi jasadnya, dan menggantungkan rompi "PRESS" miliknya serta mengangkat kamera Yaser tinggi-tinggi. Balutan bendera Palestina menutupi tubuh kaku Yaser yang dibawa menuju masjid untuk disholatkan. 

Kematian Yaser menambah daftar panjang kekerasan dan pembunuhan terhadap para pekerja pers. Kematiannya pun merupakan kabar duka bagi sesama insan pers yang berupaya menghadirkan peristiwa ke hadapan mata dunia. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)