Home » Fokus

Kisah Pilu Warga Rusunawa Tambora

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

ILUSTRASI: Hafidz Faza

BEBERAPA televisi dari berbagai ukuran beserta berbagai peralatan elektronik berjejer di rumah Kusnadi (48) di lantai 13 Rumah susun sederhana sewa Tambora, Jakarta Barat. Hampir seluruh ruang tamu terisi aneka perangkat elektronik bekas yang akan diperbaiki.

Saat rilis.id menyambangi rumahnya, Senin (21/8/2017), penghuni warga penghuni rusunawa Tambora ini sedang membolak-balik sebuah pesawat televisi ukuran 14 inch, untuk diperbaiki. Di antara peralatan elektronik itu, dia mempersilakan duduk. "Maaf berantakan, ya," kata ayah tiga anak tersebut saat sambil mempersilakan masuk ke rumahnya.

Pria yang hanya pernah mencicipi sekolah dasar ini mengaku sudah tinggal Tambora sejak tahun 1980-an. Bahkan sebelum Rusunawa yang kini didiaminya itu masih memakai bangunan lama.

Kusnadi beserta para penghuni rusunawa belakangan ini mulai resah terkait langkah Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat yang dikabarkan akan mengusir warga rusunawa.

Kusnadi beserta para penghuni rusunawa belakangan ini mulai resah. Dia termasuk ke dalam daftar warga yang rumahnya disegel pengelola rusunawa, Senin (15/8/2017) pekan lalu.

Tetapi Kusnadi masih bisa bernafas lega, karena dia telah melunasi tunggakan setelah mendapat pinjaman dari kerabatnya. Namun, bekas segel masih terpampang dipintu rumahnya karena. Kusnadi menunggak enam bulan.

Meski telah melunaskan sisa tunggakannya, keresahannya tak lantas hilang. Lantaran tak bisa mendapat pemasukan memadai, kekhawatiran bakal diusir selalu membayanginya. "Ya khawatir juga ke depannya nanti bagaimana mau bayar," kata Kusnadi.

Biaya sewa rusunawa tersebut senilai Rp480.000-an di luar pembayaran air dan listrik. Angka tersebut menurut Kusnadi cukup memberatkannya yang hanya mengandal pemasukan dari servis elektronik dan jual beli bahan bekas.

Selain ekonomi yang sedang susah, Kusnadi juga mengeluh soal keberadaan Rusunawa yang berbeda dari sebelumnya. Sekarang, imbuh Kusnadi, sejak pindah ke rusunawa yang baru sumber mata pencaharian tak seperti sebelumnya. Lingkungan rusunawa yang baru dibatasi untuk warganya berusaha.

"Saya dulu jual beli laptop tapi sekarang ekonomi memang susah, sampai buat bayar kamar aja susah," aku Kusnadi. Sementara di ruusun yang lama, kendati tak senyaman sekarang tetapi ekonomi bisa berjalan normal dan memberi masukan para pedagang kecil.

Rusun Tambora terdiri tiga tower dan empat blok, total seluruhnya mencakup 879 unit. Dari jumlah tersebut, ada sekitar 105 unit dari 261 yang disegel pengelola lantaran tak membayar cicilan.

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat sebelumnya sempat mengancam bagi warga yang belum melunasi cicilan rumahnya akan diusir. Dia tak pun tak peduli jika warga yang akan diusir dari Rusunawa akan menjadi gelandangan di Jakarta, karena  masih banyak yang ingin menempati Rusunawa tersebut.

"Sudah (disegel), kalau memang dia nggak ada niat untuk bayar ya memang begitu (diusir)," kata politisi yang baru diangkat Gubernur DKI menggantikan Basuki Tjahaja Purnama tersebut pekan lalu.

Penulis Armidis Fahmi
Editor Danial Iskandar

Tags:

fokusrusunawa tamboradjarot saiful hidayatjakarta

loading...