logo rilis
Kiamat Setya Novanto dari Jalan Bungur Besar
Kontributor
Yayat R Cipasang
24 April 2018, 16:46 WIB
Kiamat Setya Novanto dari Jalan Bungur Besar
ILUSTRASI: Hafiz

RILIS.ID, Jakarta— Setelah melalui berbagai episode dan babak yang menarik, akhirnya perjalanan hukum dan politik Setya Novanto berakhir di Jalan Bungur Besar, Jakarta Pusat. Majelis Hakim Tipikor dengan sangat pelit mengkorting hukuman yang didakwakan Jaksa Tipikor hanya selisih satu tahun.

Toto!TokTok! Majelis Hakim Tipikor menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepada Novanto. Mantan Ketua DPR ini tentu akan segera masuk jeruji besi bukan sebagai tahanan politik melainkan sebagai tahanan korupsi KTP elektronik. Megaproyek yang dananya juga tahun jamak senilai Rp2,6 triliun.

Novanto sempat terenyak dari tempat duduknya ketika angka 15 keluar dari mulut Ketua Majelis Hakim Tipikor Yanto. Sementara di belakangnya sang istri, Deisti Astriani Tagor yang selalu hadir dalam setiap persidangan tampak murung. Kerudung yang menutup sebagian rambutnya tak bisa menutupi raut kecewa.

Novanto sudah layak menikmati semua kekayaannya dari hasil jerih payahnya selama hampir separuh hidupnya yang penuh perjuangan. Tapi KTP telah membuat pengusaha yang merintis hidup dari bawah tergelincir dan menjadi pesakitan.

Masa Setnov dilewati dengan penuh duka. Setnov yang lahir di Bandung, Jawa Barat dan sekolah di SMA 9 (sekarang SMA 70 Bulungan Jakarta) kemudian hijrah ke Surabaya dan melanjutkan kuliah di jurusan akuntansi Universitas Widya Mandala.

Setnov membiayai sendiri kuliahnya dengan bekerja serabutan seperti berjualan beras di Pasar Keputren, sales di dealer mobil dan menjual ketampanannya dengan menjadi model peragaan busana di catwalk.

Nah, salah satunya yang tidak banyak terungkap adalah Setnov pernah menjadi sopir pribadi, tukang cuci mobil Mas Isman (almarhum) pendiri KOSGORO dan pendiri Golkar, yang kemudian mengubah hidupnya setelah diasuh Sang Jenderal. Setnov adalah teman Hayono Isman, putra Mas Isman, yang kini menjadi politisi Demokrat. Keduanya berteman semasa SMA dan Setnov menumpang di rumah Hayono Isman.

AP Batubara--pengusaha yang dulu berkantor di Gedung Indocement Jalan Sudirman, Jakarta--bersama Liem Soei Liong, Ibrahim Risjad dan Sudwikatmono--termasuk yang mengetahui kisah Setnov. 

"Setnov itu dulu sopir Mas Isman. Dia itu ulet. Setelah mengantarkan Mas Isman ke kantor di Wisma Kosgoro di Jalan Thamrin, dia itu sering main-main ke Wisma Indocement tepatnya di lantai parkir sekaligus tempat transit tiga konglomerat itu," kata AP Batubara seperti dituturkan kepada Erwin Kurai, seorang wartawan senior.

Suatu saat Setnov sempat ditegur Sudwikatmono. "Tegurannya, maksudnya baik. Sehingga sempat ditanyakan siapa  dia sebenarnya dan ngapain sering berada di lantai parkir," kata AP Batubara.

Entah apa jawaban Setnov ketika itu. Tahu-tahu Sudwikatmono memberikan suatu proyek di Pulau Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Setelah itu perusahaan milik Setnov terus berkembang dan tambah besar.

Setelah sukses berbisnis di Pulau Batam, Setnov dengan bekal jaringan jenderal dan konglomerat Orde Baru kemudian mengajukan izin lokasi tanah kepada Otorita Batam untuk pembangunan hotel berbintang pertama di sana lengkap dengan lapangan golf di Nagoya berhadapan dengan negara tetangga Singapura.

Ikut mendukung rencananya saat  itu adalah Pangkowilhan I Mayor Jenderal Soesilo Sudarman (almarhum) atau Panglima Teritorial Kodam Bukit Barisan, sampai izin lokasi tanah yang diajukan diterbitkan oleh Otorita Batam dengan mulus. 

Soesilo Sudarman saat itu adalah orang kepercayaan Presiden Suharto. Dan Setnov sangat paham untuk berlindung atau mencari tauke yang menjadi jurus bisnis ampuh di  zaman itu.

Kerajaan bisnisnya yang telah dibangun dengan susah payah berpuluh tahun mungkin tidak terlalu bermasalah. Toh, Jaksa Tipikor pun sangat baik kepada Setnov karena tidak menjatuhkan hukuman menggunakan UU Tindak Pindana Pencucian Uang.

Tapi, karier politik Setnov berakhir sejak hari ini. Dan sepertinya Setnov ditakdirkan hanya sebagai pengusaha.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)