Home » Inspirasi » Opini

Ketua MK Mengundurkan Diri, Mungkinkah?

print this page Selasa, 5/12/2017 | 15:03

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

Oleh DR. Bambang Widjojanto
Dosen Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Senior Lawyer WSA Law Office, Mantan Wakil Ketua KPK 

TAK lucu dan tercela! Jika benar sinyalemen adanya "Lobi Mencurigakan Ketua MK" seperti ditulis salah satu media nasional. Adalah sungguh sangat menyakitkan, lobi itu, kabarnya, disertai transaksi atas kewenangan institusi.

Perbincangan di publik yang merujuk berita pada media di atas menjelaskan begitu telanjang bahwa "Mahkamah Konstitusi akan mengizinkan DPR memeriksa KPK". KPK yang tengah menghadap sakratulmaut, sedang memperjuangkan sisa harapannya, saat ini, tak sekadar "dijegal" tapi sungguh hendak "dijagal".

Wadah Pegawai KPK dan masyarakat sipil sedang mengajukan judicial review atas kesewenangan Panitia Angket KPK bikinan DPR. Dasar dari tindakan DPR dituding melanggar UUD NRI Tahun 1945, selain ada isu konflik kepentingan yang merupakan salah satu akar dari korupsi.

Jika sinyalemen itu tidak dapat dibantah kebenarannya. Ini tentu bukan "lobi-lobi biasa karena ada bau sangit korupsi". Problemnya jauh melampaui dari sekadar masalah etik dan perilaku semata. Inilah yang disebut sebagai the real political corruption yang menjelaskan adanya state capture corruption. Seolah, bersekutunya kuasa kegelapan yang secara sengaja hendak menghancurkan upaya dan harapan pemberantasan korupsi.

Dari perspektif positif, ini justru kesempatan besar bagi Mahkamah Konstitusi yang kewenangannya "nyaris" tanpa kontrol sehingga menjadi satu-satunya lembaga super body yang untouchable di republik ini.

Saatnya mahkamah, seluruh hakim konstitusi, apalagi ketuanya, untuk tidak sedikit pun memberi toleransi dan bersikap permisif, pada tindakan sekecil apapun yang dapat "melukai" kehormatan Lembaga, termasuk atas sinyalemen lobi yang bersifat transaksional itu.

Kehormatan itu hanya dapat ditegakkan, jika integritas dan kepribadian mahkamah melalui para hakim konstitusinya tidak melakukan tindakan tercela secuil pun dan berupaya keras untuk menjaga adab dan terus menerus meningkatkan izzah, nurani keadilan dan kewarasannya.

Tindakan tercela itu harus ditaklukkan. Ini saat yang tepat dan luar biasa, jika saja, Ketua MK, Prof. Arief Hidayat, dan seluruh jajaran hakim konstitusi MK, bersegera memantaskan diri untuk menegakkan standar moral yang sangat tinggi di tengah musim kering kerontang, hilangnya keteladanan dan kenegarawanan melalui contoh terbaik.

Bangsa ini perlu contoh terbaik keteladanan yang ditopang nurani dan kewarasan. Diusulkan, segera saja letakkan jabatan sembari meminta maaf atas khilaf dan alpa pada daulat rakyat. Insya Allah, itu justru akan memuliakanmu karena telah berani merendahkan hatimu dan telah secara sengaja untuk berani mengambil tanggung jawab tidak biasa.

Tags:

Bambang WidjojantoMKArief HidayatLobi MK