logo rilis
Ketua KPU Ungkap PAW Harun Masiku Ditandatangani Megawati dan Hasto
Kontributor
Tari Oktaviani
10 Januari 2020, 19:33 WIB
Ketua KPU Ungkap PAW Harun Masiku Ditandatangani Megawati dan Hasto
Ketua KPU Arief Budiman Saat Beri Keterangan Pers di KPK, Kamis (9/1/2020). Foto: RILIS.ID/Fajar Alim Mustaqin

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengatakan permintaan untuk pergantian antar waktu (PAW) caleg atas nama Harun Masiku ditandatangani oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Sekjen Hasto Kristiyanto.

"Sebetulnya kalau surat menyurat administratif bisa pokoknya pimpinan partai. Tetapi yang terakhir (surat PAW atas nama Harun Masiku) memang ditandatangani oleh ketua umum dan sekjen," kata Arief Budiman di Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Menurut Arief, KPU tetap konsisten menolak Harun Masiku lantaran suara terbanyak masih dikantongi oleh Riezky Aprilia. 

"Kan dia bukan calon terpilih. Calon terpilihnya kan yang lain, Harun itu perolehan suaranya peringkat kelima (perolehan suaranya)," ujarnya.

Seperti diketahui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan sebagai tersangka dalam kasus suap terkait penetapan anggota DPR 2019-2024.

Tak hanya Wahyu, KPK juga menetapkan tiga tersangka lain yakni Agustiani Tio Fridelina (ATF) selaku mantan anggota Bawaslu yang juga orang kepercayaan Wahyu, caleg Harun Masiku (HAR) dan seorang swasta bernama Saeful (SAE). 

Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar mengatakan mulanya KPK mengetahui informasi bahwa adanya dugaan permintaan uang dari Wahyu kepada Agustiani Tio Feidelina. 

Lalu tim KPK kemudian mengamankan Wahyu dan Rahmat Tonidaya selaku asisten Wahyu, di Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (8/1/2020) pukul 12.55 WIB. Tim KPK juga mendapatkan barang bukti uang sebesar Rp400 juta yang ditemukan di rumah Agustiani.

"Kemudian secara paralel, tim terpisah KPK mengamankan ATF di rumah pribadinya di Depok pada pukul 13.14 WIB. Dari ATF, tim mengamankan uang setara dengan sekitar Rp 400 juta dalam bentuk mata uang SGD dan buku rekening yang diduga terkait perkara," kata Lili dalam konfrensi pers di KPK, Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Adapun uang tersebut diduga sebagai suap untuk Wahyu agar meloloskan Harun Masiku ke DPR guna mengganti anggota yang meninggal dunia. 

Harun Masiku sendiri belum berhasil ditangkap KPK. Lili pun berharap agar yang bersangkutan menyerahkan diri ke KPK.

"KPK meminta tersangka HAR segera menyerahkan diri ke KPK dan pada pihak lain yang terkait dengan perkara ini agar bersikap koperatif," ujar Lili.

Sebagai penerima suap, Wahyu dan Agustiani dijerat Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara sebagai pemberi suap, Harun dan Saeful disangka melanggar Pasal pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

 

 

 

Sumber: Antara




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID