Home » Inspirasi » Opini

Ketua DPR, Buron dan Kecelakaan?

print this page Jumat, 17/11/2017 | 08:01

Bambang Widjojanto: FOTO: Istimewa

Oleh Bambang Widjojanto
Penulis adalah mantan Wakil Ketua KPK

SEMULA mungkin orang berpikir, “sepandai-pandainya SN berkelit, tak bisa lagi dengan alasan sakit”. Tapi begitu beredar info kecelakaan muncul pernyataan lain “siapa bilang tak bisa berkelit, itu tak sulit, masih bisa kok dengan argumen sakit”. Yang menarik, katanya, supirnya lecet sedikit. Tapi penumpangnya justru “parah bingit". 

Pendeknya, tak sampai 24 jam, publik terkejut-kejut, atas berita soal Setya Novanto alias SN. Awalnya SN tak bisa ditemukan ketika rumahnya disantroni penyidik KPK untuk dijemput paksa, paska berkali-kali ingkar dan tak mau hadir menghadiri panggilan penyidik KPK. Lalu, info kecelakaan cepat di kamis malam lalu, menyebar dengan cepat dan SN sudah tergeletak di rumah sakit.

Kalau saja tak terjadi kecelakaan, kasus menghilangnya SN potensial memicu kegaduhan yang luar biasa, dampaknya juga bisa sangat wouw. Bayangkan saja, apa jadinya bila di seantero dunia merebak berita “Ketua DPR RI resmi jadi buronan karena diduga terlibat korupsi triliunan rupiah”.  Warga dunia tentu tak hanya sinis dan tertawa tapi takjub, memandang rendah dan kian melecehkan bangsa ini.

Lepas dari ada-tidaknya kecelakaan yang akhirnya menyebabkan lokasi sang buronan dapat diketahui, ada logika akal sehat yang tengah diuji. Apakah negara dengan lompatan capaian demokrasi yang luar biasa, punya kemampuan untuk menegakan hukum yang adil dan bermanfaat bagi kemaslahatan. Sejatinya, tidak akan ada demokrasi bila salah satu pilar penyangganya yang bernama keadilan, luruh, roboh dan runtuh ketika berhadapan dan sekalipun “digagahi” kepentingan kekuasaan.

Setelah sepanjang malam hingga dini hari dan menjelang sore di tanggal 16 November, SN menghilang tak tentu rimbanya, salah satu kolega dekatnya berujar "Pak Novanto sebenarnya tidak lari, tapi karena berdasarkan pertimbangan dari penasehat hukum bahwa ketika berbicara tentang perlu atau tidaknya izin dari presiden untuk diperiksa maka ada banyak perbedaan pandangan…". Baru di malam hari, info kecelakaan dapat menjelaskan keberadaan SN.

Ada yang menarik dari pernyataan itu, si kolega ternyata juga tak tahu kemana SN pergi menghilang atau malah, apakah disembunyikan? Tapi dia meyakinkan publik, SN tidak lah lari! Saat ini, kita belum tahu benar sebab kecelakaan dan seberapa parah korbannya. Tapi yang pasti, korupsi adalah kejahatan terorganisir sehingga sebagian kalangan meyakini, hilangnya SN bukan sekedar maunya SN sendiri. Apalagi terdapat fakta, ada beberapa orang “dekat” SN yang berada di rumah SN, kala KPK ingin menjemput paksa SN.

Bersyukur KPK telah menyita CCTV dan beberapa petunjuk lain yang ada di rumah SN sehingga kelak bisa didapatkan petunjuk, apa yang sesungguhnya telah dan tengah terjadi sebelum penyidik KPK hadir dikediaman SN. Semoga, dapat juga ditunjukan dengan “telanjang” bila ada konspirasi yang menyebabkan SN begitu hebat menggunakan “sihirnya” bisa menghilang di saat yang tepat. Termasuk, ada penjelasan, apakah kecelakaan ini murni kecelakaan karena manusia tidak bisa menolak takdir “bahaya” atau sekedar rekayasa kecelakaan?

Ada soal menarik lainnya dari pernyataan di atas, penasihat hukum diduga berperan besar atas hilangnya SN karena telah memberikan pertimbangan tertentu. Di satu sisi, ada hak dari penasihat hukum memberikan advis hukum terbaik, di sisi lainnya, ada juga etik agar advis tidak diberikan dengan cara “akrobatik” yang justru secara diametral menabrak-nabrak serta “menyelingkuhi” aturan hukum serta bahkan melawan akal sehat dan nurani keadilan.

Bila itu terjadi, penasihat hukum itu telah secara sengaja mencopot hak dan baju profesinya, beralih menjadi gate keeper yang justru menjadi bagian dari kejahatan sehingga menyebabkan terjadinya obstruction of justice. Pada titik ini, pilihan, KPK menjadi kian sederhana, mereka harus ditarik masuk menjadi pihak yang secara bersama-sama melakukan kejahatan.

Lihat saja soal kondisi SN paska kecelakaan, bukan dokter rumah sakit yang menjelaskannya tapi pengacaranya SN sendiri dengan menyatakan, “perlu MRI, pelipis Novanto benjol segede bakpao”. Sementara salah satu media memberitakan “lokasi tempat kecelakaan Novanto ini merupakan jalan yang ditutup lantaran adanya pengerukan kali. Sementara itu, posisi mobil seperti melintas dari arah jalan yang telah ditutup”. Jadi, "Ada dua jalan, tapi kenapa posisi mobilnya dari arah yang ditutup?" 

Lepas dari itu semua, semoga terjadi “titik balik”, andai saja, makin banyak saksi yang mau menjadi justice collaborator dan membuka skandal mega korupsi e-KTP yang dilanjutkan dengan pembenahan di parlemen. Mimpikah itu? Apapun situasinya, tentu, jalan membongkar skandal korupsi e-KTP masih panjang dan penuh tikungan curam, tapi kita harus tetap optimis agar bisa diungkap tuntas.

Tags:

Bambang WidjojantoSetya NovantoSetya Novanto Kecelakaan