logo rilis

Ketika Tenggelam di Toko Buku
kontributor kontributor
M. Alfan Alfian
19 Desember 2017, 16:48 WIB
Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute, dan Pengurus Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS).
Ketika Tenggelam di Toko Buku

"Biarkan saya jadi orang miskin tinggal di gubuk ketimbang jadi raja tapi tak suka membaca."
—Thomas B Macaulay, 1876

KOLOM ini tentang buku. Saya sudah berkisah tentang buku-buku yang saya baca, terus saya ulas dulu di sini sepintas lalu. Kini, saya akan menulis ringan tentang toko buku.

Baca Juga

Tenggelam di toko buku ialah hal yang sering aku alami. Entah sampai kapan lagi toko-toko buku bertahan. Beberapa tahun lalu, seorang teman kasih tahu, sebuah toko buku besar di Singapura tutup. Ia terdisrupsi oleh buku-buku digital. 

Tapi di sana, di Orchard Road itu, masih ada satu toko buku lagi, yang di Jakarta juga ada. 

Toko buku memang harus pandai-pandai bertahan, napasnya harus kuat. Tak semua orang butuh buku-buku. Tak usah dipaksa hal itu terkait bukan soal rendahnya minat baca saja. Soal daya beli juga.

Seorang teman pernah bercerita, dia pernah bercita-cita buka toko buku. Dan, dengan susah payah, berdirilah toko buku itu. Tapi sayang, usianya singkat. Bukan usia pemiliknya, tapi toko bukunya. 

Toko itu terpaksa harus tutup karena tekor. Biaya sewa tempat dan sebagainya tak bisa tertutup. Apa pasal? Yang pasti pembelinya sedikit. Pernah, katanya sambil tertawa kelu, dalam sebulan cuma laku beberapa pensil saja. Hahaha. Kemudian dia menyimpulkan bahwa kebutuhan masyarakat, untuk sementara itu, sekadar pensil saja.

Toko buku, besar atau kecil, bertahan atau tidak, tetap saja hukum pasar yang menentukan. Saya bukan pakar marketing, kendati pernah dapat mata kuliah manajemen pemasaran. Tetapi saya membayangkan betapa semakin susahnya manajemen toko buku.

Oh, perlu dicampur online Mas, Anda langsung menyahut. Belajarlah pada amazon.com. Dia contoh kasus paling konkret, bagaimana benda ilmu bernama buku itu diperjualbelikan secara "zaman now".

Tapi, semakin ke sini kita, semakin kompetitif. Toko-toko buku online sudah sangat menjamur. Buku apa saja bisa dicari, kendati tetap ada masalah.

Masalahnya, beberapa waktu lalu mahasiswa saya berkeluh kesah bahwa dia cari buku di online, sudah ditransfer uangnya, tapi bukunya tak dikirim-kirim. "Hati-hati, Pak. Banyak penipuan," katanya.

Yang bertahan ialah loakan. Begitu kata yang lain. Setiap kota yang ada kampusnya, kemungkinan besar ada toko-toko buku murah. Mungkin tak harus buku loakan, tapi toko buku yang berani kasih diskon. Tapi, yang loakan juga sering dicari. Ialah toko buku-buku langka.

Ketika sudah masuk toko buku langka, maka buku pun sudah jadi barang yang langka. Harganya bisa sangat mahal. Padahal kertasnya sudah sangat lecek.

Buku memang barang pengetahuan yang ajaib. Mirip dengan kekuasaan. Kata Pak Deliar Noer dalam suatu bukunya, kekuasaan itu barang amanah. Sebagai barang amanah, kekuasaan tak kalah ajaibnya.

Pengetahuan dan kekuasaan, kalau kita baca karya filsuf Perancis Michel Foucault, merupakan suatu paduan yang menggemparkan. Tentulah dia berimbas pada konteks peradaban: bagaimana kalau kekuasaan dijalankan tanpa pengetahuan? 

Bagaimana pula kalau tumpukan barang pengetahuan itu diobrak-abrik oleh perebut kekuasaan? Seperti kisah tentara Mongol saat jatuhkan Baghdadkah?

Macaulay mengkritik kekuasaan yang tanpa pengetahuan sebagai raja yang tidak suka membaca. Sementara dia, pilih tenggelam di tumpukan buku gubuk miskinnya, karena kaya pengetahuan.

Buku itu nilainya juga kadang-kadang aneh. Dia hanya tumpukan kertas yang bisa dijual kiloan. Tapi bagi yang membutuhkan, nilainya tentu mahal. Barang berharga bernama buku ini, suka membuat pencuri bingung.

Ketika dulu rumah saya dimasuki maling, tak ada satu pun buku-buku saya diambilnya. Padahal jumlahnya banyak sekali. Mungkin dia berpikir normal saja: kalau ambil buku-buku, bagaimana cara menjualnya?

Dari rak ke rak toko buku ini, saya susuri buku-buku. Banyak buku fiksi, juga nonfiksi, buku pelajaran, komik, majalah, segala rupa. Inilah gambaran peradaban buku kita: buku-buku cetak konvensional. 

Dia masih kita butuhkan, hingga suatu masa, tak perlu lagi ada toko buku, seiring tutupnya mal-mal. Semua akan pindah ke online. Perpustakaan pun dilipat habis-habisan. Semua sudah menyatu di genggaman kita masing-masing.

Tenggelam di toko buku, kelak berarti, tenggelam dalam dunia data-data, yang maya dinyatakan, yang nyata dimayakan.

Keasyikan tenggelam di toko-toko buku zaman kita, kelak tinggal kenangan saja. Seperti gedung-gedung bioskop di kota-kota kecil. Pabrik-pabrik gula. Atau hal-hal yang dulu megah. Tapi tinggal petilasannya.

Para orangtua kelak di zaman jauh, mungkin akan berkata ke anaknya, “Nak, dulu di situ, di sebelah pojok itu, pernah ada toko buku besar sekali!”

“Apa, Pak? Toko buku? Apa itu?"


#jendela
#m alfan alfian
#toko buku
#buku
#pengetahuan
#kekuasaan
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)