Home » Fokus

Ketika Perempuan Beredar di Balik Layar

print this page Selasa, 9/1/2018 | 21:10

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

DUA pemuda ini masih anteng bercengkrama. Tapi, bak generasi milenial, di tengah-tengah obrolan, masih sempat-sempatnya membuka gadget. Pantau media sosial. Atau sekedar mengecek pesan grup yang mengantre disimaknya.

Adalah Lukman, 26 tahun, dan Rendy (25) yang asyik ngalor-ngidul di depan Monas, Jalan Medan Merdeka Utara. Momen kawan satu kampung asal Surabaya ini berjumpa karena tugas kantor mempertemukan mereka.

"Wah, ayu temen e bojone Ridwan Kamil (Cantik banget istrinya Ridwan Kamil)," kata Rendy yang tengah men-scrolling Instagram.

"Hehe, melok kampanye ta? biasa iku (Ikut kampanye yah? biasa itu)," jawab Lukman dengan gaya sedikit cuek.

Seorang kandidat yang hendak maju dalam kontestasi pemilu, memang harus mendapat dukungan dari keluarga, khususnya isteri. Karena dari para wanita itu, suara-suara kaum ibu akhirnya bisa menyumbangkan kemenangan.

"Wedok iku duwe pengaruh dewek (Perempuan itu punya pengaruh sendiri)," tambah Lukman. Ia kemudian ikut-ikutan membuka Instagram. Keduanya lalu saling diam. Hening. Kadang gitu lah generasi kekinian berbincang.

FOTO: Instagram

"Best!" kutipan kalimat akhir Ridwan Kamil dalam caption Instagram mengomentari sang istri, Atalia Praratya.

Budayawan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Wening Udasmoro, menganggap para perempuan itu, sangat kreatif. Khususnya dalam mengoptimalkan ruang yang sifatnya konkret untuk bersosialisasi. 

"Di tambah virtual space, di samping ruang sosial itu. Sehingga, akan mendapatkan efek yang begitu besar." kata dosen di kota pendidikan itu.

Fungsinya untuk memperkuat sosok, bukan untuk mengaburkan. Persis seperti yang dilakukan Atalia dalam memanfaatkan strategi tersebut. Tak lain, sebagai sarana sosialisasi di hadapan publik. 

Figur lainnya adalah Arumi Baschsin, istri bakal calon wakil gubernur di Jawa Timur, Emil Dardak, yang juga tak luput dari sorotan netizen.

Prihal dukungan, tak perlu diragukan. Misal, ketika drama membalut kisah pencalonan suaminya yang dianggap sebagai penghianat partai (PDI Perjuangan), sontak, wanita ini mendadak angkat bicara.

"Kami juga punya alasan kuat," kata Arumi. Terpilihnya Emil Dardak itu atas perjuangan dan amanah para kiyai. Bukan pengajuan diri. Tambah perempuan yang namanya dulu tenar di dunia hiburan.

Pun istri Gubernur (calon petahana) Lampung, Ridho Ficardo, Aprilani Yustin, yang turut memperkuat sosok suaminya di ruang publik.

Pada Desember 2017 lalu, ketika menghadiri acara pengajian di pondok pesantren di Lampung Timur, ia menggaungkan prestasi Ridho. Seperti, berhasil mewujudkan program infrastruktur yang telah mencapai 77 persen. 

FOTO: Instagram

"Ini bukti cinta beliau, dan jalan di Lampung Timur juga apalagi untuk menuju lokasi acara ini sudah mulus," kata Yustin dalam postingannya.

Pengamat Politik LIPI, Wasisto Rahajo Jati, mengiyakan bahwa pola seperti itu memiliki segmentasinya sendiri. Namun, efeknya tak terlalu luas, karena publik di sejumlah daerah 'melek' politik lebih butuh program yang jelas.

Di sini peran kandidat mengemasnya di media sosial. Misal, menyampaikan program-program dan capaian kinerjanya lewat jejaring nirkabel ini.

"Dulu tren media sosial digunakan untuk mencari simpati, kini yang ditonjolkan adalah narasi," tambah Wasisto.

(bersambung)

Baca juga:
Jebakan Purba yang Mematikan (bag.1)
Mereka yang 'Kelar' Karena Perempuan (bag.2)
Ketika Perempuan Beredar di Balik Layar (bag.3)
'Power' Emak-emak Pengaruhi Pemilu (bag.4)

Penulis Afid Baroroh
Editor Andi Mohammad Ikhbal

Tags:

Pilkada 2018Istri kepala daerahistri cantik pejabatmedia sosial kampanye