Home » Fokus

Ketika Istana Berzikir

print this page Kamis, 3/8/2017 | 02:54

FOTO: Biro Pers Setpres. ILUSTRASI: Akbar Pathur

ISTANA Merdeka Jakarta, yang biasanya tampak sepi dan terkesan dingin, malam kemarin (1/8/2017) terasa berbeda. Gedung peninggalan pemerintah Hindia Belanda ini terlihat meriah dengan hiasan kain merah-putih. Lampu sorot berjajar, bergantian memancarkan warna biru, ungu, dan merah.

Di halaman istana, ribuan orang menyemut. Mereka yang kebanyakan berpakaian serba putih, teratur membentuk shaf dan bersila. Karpet hijau membentang di atas rumput. Tanpa panggung dan tenda, halaman yang tak seberapa luas itu pun disulap menjadi sebuah majelis zikir. Puji-pujian dan syukur ke hadirat Ilahi menggema dari beberapa pelantang, dan terdengar hingga luar pagar istana.

Lalu lintas kendaraan di depan istana tampak lengang, karena akses utama seperti jalan Medan Merdeka Utara telah ditutup. Penngamanan diperketat. Setiap persimpangan jalan tampak dijaga oleh pasukan pengamanan presiden dan aparat kepolisian.

Meski acara dijadwalkan mulai bakda isya’, banyak dari hadirin, yang datang dari berbagai daerah, telah berada di lokasi sejak sore. Mereka seperti ingin menjadi bagian dari lahirnya sebuah sejarah. Untuk pertama kalinya sepanjang republik ini berdiri, sebuah majelis zikir digelar di pusat kekuasaan negara.

"Ini memang yang pertama kali, dan mudah-mudahan akan terus dapat dilakukan," ujar KH. Ma’ruf Amin, Rais Aam PBNU, saat memberikan sambutan di hadapan hadirin dan Presiden Joko Widodo. Kiai Ma’ruf dikabarkan menjadi inisiator majelis zikir yang diberi nama Hizbul Wathon, atau cinta tanah air ini. Peresmiannya sendiri sudah dilakukan saat acara Halaqoh Nasional Alim Ulama di Jakarta, 13 Juli lalu.

Pembacaan zikir dipimpin oleh KH. Miftakhul Akhyar, yang juga Wakil Rais Aam PBNU. Di sampingnya, berurutan duduk menghadap ke jamaah majelis zikir, para kiai sepuh NU: KH Maimoen Zubair, KH Ma’ruf Amin, Abuya Muhtadi Dimyati, bersanding dengan Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla, dan Menag Lukman Saifuddin. Bersama hadirin, para ulama dan petinggi negara ini tampak khusyuk mengikuti acara.

Keakraban pemerintah dengan ulama ini seakan sedang menepis kesan berjaraknya komunikasi antara Jokowi dan umat muslim. “MDHW mengajak umat Islam mencintai negara. Karena cinta tanah air itu tidak boleh setengah-setengah,” kata Ketua Umum MDHW KH. Musthofa Aqil Siradj di hadapan hadirin.

Musthofa yang juga adik dari Ketua PBNU Said Aqil Siradj ini mengatakan, MDHW bertugas untuk menjadi benteng umat Islam dalam menjaga ideologi Pancasila. Di hadapan Presiden, dia juga berharap majelis ini dapat menjadi wadah silaturahmi bagi setiap elemen bangsa, dan acara zikir kebangsaan dapat dilaksanakan di kesempatan lain.

Dalam struktur MDHW sendiri, Presiden Jokowi didapuk menjadi dewan pembina. Kiai Ma’ruf, yang saat ini menjabat ketua MUI, juga duduk sebagai dewan penasihat. Sedangkan mantan Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi menjabat sekretaris jenderal.

Sebelum Presiden Jokowi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah membina Majelis Zikir SBY Nurussalam. Majelis ini bahkan bekembang menjadi yayasan dan memiliki kepengurusan di 33 provinsi. Namun sepanjang era SBY, majelis ini hanya mengadakan acara zikir di Masjid Baiturrahim di lingkungan Istana Negara. Adapun zikir akbar di halaman istana merdeka, dipimpin oleh tokoh-tokoh NU dan MUI, memang baru kali ini.

Simak fokus lainnya tentang MAJELIS DZIKIR HUBBUL WATHON:

LAPORAN 1: Ketika Istana Berzikir
LAPORAN 2: Kemesraan Jokowi dan Ma'ruf Amin
LAPORAN 3: Jokowi Menggerus Sentimen Anti-Umat Islam
LAPORAN 4: Majelis Zikir untuk Konsolidasi Politik?
LAPORAN 5: Belajar dari SBY

Penulis Armidis Fahmi
Editor Danial Iskandar

Tags:

fokusmajelis zikirhubbul wathonistana merdeka

loading...