logo rilis
Ketika 'Cuci Otak' Ala Terawan Jadi Kontroversi
Kontributor
Kurniati
04 April 2018, 17:20 WIB
Ketika 'Cuci Otak' Ala Terawan Jadi Kontroversi
Ilustrasi operasi. FOTO: Shutterstock

RILIS.ID, Jakarta— Modifikasi Digital Substraction Angiogram (DSA) atau pengobatan cuci otak yang ditemukan oleh Brigjen TNI dr. Terawan Agus Putranto atau yang biasa disapa dokter Terawan menjadi kontroversi.

Pasalnya, Majelis Kehormatan Etik Kedoteran, PB Ikatan Dokter Indonesia menilai dokter ini melakukan pelanggaran kode etik.

Sementara berdasarkan sejumlah pengakuan pasien, metode yang dilakukan oleh dokter Terawan ini malah menyembuhkan.

Misalnya, Anggota Komisi IX DPR RI, Dewi Aryani yang pernah mengikuti terapi otak dari dokter Terawan pada tahun 2017 ini.

Menurutnya, praktik cuci otak sudah berjalan sekian tahun mengobati ribuan orang, kenapa tiba-tiba sekarang dinilai melanggar etik? 

"Kalau pun ada pelanggaran seharusnya sejak awal sudah di-stop. Di rumah sakit 'kan ada tim etik, ada para dokter senior yang paham tentang etik kedokteran dan 'clinical pathway'. Pegangan mereka 'kan itu. Ini sampai ada di brosur, bahkan dipromosikan," katanya.

Jika pelanggarannya hanya administrasi, menurut Dewi, mestinya ada solusinya, bukan pemecatan. Kalau dinilai berat, IDI dan pihak Terawan harus menjelaskan kepada publik supaya tidak makin meresahkan dan jadi polemik berkepanjangan.

"Pemecatan juga ada kriterianya. Maka, harus dijelaskan pelanggaran beratnya apa saja dan kenapa setelah bertahun-tahun praktiknya berjalan?" tanyanya.

Senada, Anggota DPR RI, Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio, juga pernah merasakan bagusnya penanganan yang dilakukan oleh dokter Terawan yang saat ini dipecat oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

“Tiga tahun lalu saya datang ke dokter Terawan untuk membersihkan salurah darah di otak. Terasa berkunang-kunang. Saya diperiksa pagi, 2 jam kemudian saya diperbolehkan pulang, tidak nginap sama sekali. Alhamdulillah, saya menjadi sehat sampai sekarang,” kata Eko Patrio kepada rilis.id, Rabu (4/4/2018).

Eko mengatakan, bila selama ini pasien atau orang yang sakit merasa khawatir dengan stroke, dengan dokter Terawan, kekuatiran tersebut tidak terjadi.

“Sentuhan dan metode pengobatan yang dilakukan oleh dokter Terawan sangat sederhana. Buat saya sih, awalnya worry, sama dia kita tak ketakutan karena pendekatan-pendekatan yang dilakuka dokter Terawan bukan hanya sekedar dokter, tapi sudah psikologi,” kata anggota Badan Anggaran DPR RI itu.

Kemudian, ada mantan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto yang juga tertarik dengan metodologi pembersihan saluran darah yang dilakukan oleh dokter Terawan. 

Karenanya, dirinya mendatangi dokter Terawan untuk membersihkan saluran darah di kepala.

“Saya sudah 2 kali, waktu itu saat saya jadi Menko Polhukam, istri juga sama. Bukan karena sakit tapi untuk bersihkan salurah darah di kepala saja. Saya tertarik metodologi pembersihan saluran darah supaya lancar dari otak. Dokter Terawan tidak bekerja sendirian,” kata Djoko Suyanto.

Metode cuci otak dokter Terawan merupakan salah satu tindakan radiologi intervensi untuk mengobati pasien-pasien stroke. 

Radiologi intervensi sendiri adalah cabang dari radiologi yang mengutamakan tindakan non invasif terhadap pasien.

Dikonfirmasi, Ketua Umum PB IDI, Prof. Ilham Oetama Marsis juga masih belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut perihal beredarnya surat pemecatan bernomor 009770/PB/MKEK/03/2018 perihal Tindak Lanjut Keputusan MKEK PB IDI tersebut.

Surat dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran atau MKEK Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia itu menetapkan sanksi pemecatan sementara kepada DR. Dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad sebagai anggota dari IDI selama 12 bulan dan melakukan pencabutan rekomendasi izin praktek dokter tersebut.

Belum ada keterangan resmi dari PB IDI atau MKEK PD IDI, menjawab permintaan konfirmasi dari bisnis mengenai kabar tersebut, terutama yang berkaitan dengan pelanggaran etik apa yang dilakukan dokter Terawan Agus Putranto.


500
komentar (0)