logo rilis
Kerja Sama Lintas Negara Balitbangtan untuk Pengembangan Alih Teknologi Padi
Kontributor
Elvi R
14 September 2019, 19:32 WIB
Kerja Sama Lintas Negara Balitbangtan untuk Pengembangan Alih Teknologi Padi
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Lokakarya Internasional Pengembangan Bersama dan Alih Teknologi Padi baru saja digelar di Hotel Rodhita Banjarmasin. Pelaksana utama kegiatan Dr. Puji Lestari mengatakan, lokakarya adalah proyek multi negara yang menyoroti hasil dan berbagi informasi tentang pemanfaatan sumber daya genetik padi. Kegiatan ini telah digagas sejak 2016 sampai Oktober 2019.

 “Proyek ini melibatkan organisasi penelitian nasional di Asia Tenggara yaitu Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik/ BB Biogen (ICABIOGRAD-IAARD) (Indonesia), RRI-MARDI (Malaysia), ARC-NAFRI (Lao PDR) dan PhilRice (Filipina),” tambahnya.

Dalam acara ini, ICABIOGRAD berperan sebagai tuan rumah bersama Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa/ Balittra (ISARI-IAARD). Acara ini juga akan menandai berakhirnya proyek multi-negara tentang Pengembangan Bersama dan Transfer Teknologi Padi yang didanai oleh Dana Bagi Hasil dari ITPGRFA-FAO.

Kepala Balittra Ir. Hendri Sosiawan, CESA dalam sambutannya mengatakan, optimalisasi lahan rawa tidak terlepas dari penggunaan varietas beras baru yang adaptif untuk rawa, dan dikombinasikan dengan teknologi budidaya yang tepat.

Menyediakan makanan yang cukup adalah salah satu faktor penentu bagi terwujudnya ketahanan pangan nasional.

“Meskipun bervariasi antar negara, kontribusi beras untuk makanan sehari-hari masyarakat Asia Tenggara masih relatif tinggi karena nasi adalah makanan pokok di Asia Tenggara”, papar Hendri Setiawan.

Sehingga, tidak heran sebagian besar negara di Asia mengalokasikan sumber daya termasuk pendanaan untuk mendukung pertumbuhan produksi padi.

Dalam lokakarya ini, 3 tema yang diangkat adalah: Pemuliaan padi konvensional dan non-konvensional; Karakterisasi dan konservasi sumber daya genetik padi; dan Evaluasi sosial-ekonomi varietas padi tradisional atau modern

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si melalui Kepala Balittra menyatakan, mayoritas negara ASEAN bergantung pada beras sebagai makanan pokok. Beras juga sumber pendapatan dan lapangan kerja bagi masyarakat perkotaan dan pedesaan

Menurut Fadjry, Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan konsumsi beras ASEAN akan meningkat dari 100,0 juta ton pada 2011 menjadi 111,3 juta ton pada 2021 (pertumbuhan satu persen per tahun).

Rata-rata konsumsi beras ASEAN per kapita adalah 2,5 kali rata-rata dunia, dan peringkat teratas adalah Bangladesh dengan 171,7 kilogram per kapita per tahun. Laos, Indonesia, Filipina, dan Malaysia mengonsumsi beras masing-masing sebesar 162,3, 134,6, 119,4 dan 79,9 kg per kapita per tahun”, tambah Fadjry.

Dalam sambutan yang dibacakan Hendri Sosiawan, Fadjry menjelaskan, mengingat  tantangan dalam mencapai kecukupan pangan semakin kompleks, perlu diterapkan sistem yang menawarkan makanan sehat dan bergizi, dapat diakses oleh semua orang, serta menjaga sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu,  upaya integrasi dan optimalisasi berbagai aspek, dari produksi hingga konsumsi makanan perlu dilakukan. Dalam implementasinya, dibutukan pula gagasan untuk menghasilkan lapangan kerja serta memperkuat rantai nilai pangan lokal.

Lokakarya ini dilakukan selama 3 hari, diawali dengan kunjungan ke demfarm kegiatan di KP Belandean, Tanjung Harapan, dan Kabupaten Barito Kuala. Setelah menyelesaikan lokakarya di Hotel Rodhita Banjarmasin, hari terakhir diisi dengan kunjungan ke Pasar Terapung Banjarmasin. Selain peserta dari Lao PDR, Filipina, dan Malaysia, turut bergabung pula para peneliti Balittra, BPTP Kalimantan Selatan, dan BPTP Kalimantan Tengah.

Sumber: Vika/Vicca




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID