logo rilis
Kereta Maut Bondowoso, Kisah Puluhan Pejuang Mati Lemas
Kontributor
Yayat R Cipasang
06 Maret 2018, 18:44 WIB
 Kereta Maut Bondowoso, Kisah Puluhan Pejuang Mati Lemas
Para pejuang yang selamat dari gerbong maut. FOTO: YouTub

SELAMA perang kemerdekaan, tentara Belanda melancarkan sejumlah aksi brutal dan pembantaian yang merenggut ribuan jiwa di sejumlah daerah. Misalnya pembantain Rawagede di Karawang, aksi Westerling di Sulawesi Selatan, Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) Bandung, Jawa Barat dan Kereta Maut Bondowoso, Jawa Timur.

Dari sejumlah kebengisan tentara Belanda tersebut hanya korban dan pewaris Pembantaian Rawagede yang sudah mendapatkan kompensasi dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Sejarawan yang juga pendiri Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) Batara Hutagalung terus memperjuangkan korban dan pewaris Kereta Maut Bondowoso untuk mendapatkan kompensasi.

Kereta Maut Bondowoso bermula ketika Tentara Belanda yang kembali datang ke Indonesia mengatasnamakan Netherlands Indies Civil Administration (NICA), menangkap secara besar-besaran Tentara Republik Indonesia (TRI) dan sejumlah pejuang gerakan bawah tanah. Namun, penangkapan itu tidak memperhitungkan kapasitas penjara.

Tentara Belanda pun kemudian pada 23 November 1947 sekira jam 05.00 memindahkan sekira 100 tahanan kelas berat dari Penjara Bondowoso ke penjara di Surabaya dengan menggunakan kereta masing-masing gerbong bernomor GR5769, GR4416 dan GR10152.

Sialnya, tiga gerbong tersebut tidak seperti layaknya gerbong zaman kiwari. Ditambah lagi, gerbong yang digunakan sangat tidak layak. Mirip penjara. Sangat minim ventilasi. Bahkan gerbong terakhir yang konon dibuat belakangan, sama sekali tidak memiliki ventilasi. 

Selama dalam perjalanan dari Bondowoso ke Stasiun Wonokromo selama 16 jam para tahanan mati lemas pelan-pelan. Tercatat pada gerbong pertama yang memuat 24 tahanan hidup semua, gerbong kedua yang mengangkut 38 tahanan yang meninggal 8 orang dan gerbong paling belakang yang mengangkut 38 orang semuanya mati lemas kehabisan oksigen.

Sebanyak 32 tawanan yang sehat terpaksa harus mengurus jenazah teman-temannya yang meninggal hingga pukul 02.00 dinihari. Kisah tragis tersebut sangat gamblang ditulis dan diterbitkan di Belanda pada tahun 1995 dalam buku berjudul De Excessennota.

Dalam sejumlah kesaksian, tahanan yang berada di gerbong pertama dan kedua untuk mendapatkan oksigen sampai harus bergantian menghirup udara dari ventilasi yang sangat kecil. Karena itu, korban tidak banyak di gerbong pertama dan kedua. Sedangkan di gerbong ketiga yang paling belakang sama sekali tidak ada udara. 

Mayat-mayat bergelimpangan. Rupanya, lubang ventilasi yang sebagian dibuat dengan garpu dan sendok selebar 3 sentimeter selama dalam perjalanan tidak cukup membuat mereka bisa bertahan. Air kencing yang mereka minum pun tak dapat menolong banyak karena tidak seimbang dengan dehidrasi yang akut.

Saking panasnya, kulit para tahanan sampai melepuh terpanggang gerbong yang terbuat dari baja. Bahkan dari telinga dan hidung korban juga banyak yang mengeluarkan darah.

Itulah kebiadaban tentara Belanda yang sampai sekarang terus dikejar keturunan pejuang untuk meminta maaf dan bertanggung jawab dalam perjalanan tiga gerbong selama 16 jam yang sangat mematikan.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)