logo rilis

Kepincut Mojang Priangan, Sastrawan Ini Terusir dari Ranah Minang
Kontributor
Yayat R Cipasang
25 April 2018, 16:52 WIB
Kepincut Mojang Priangan, Sastrawan Ini Terusir dari Ranah Minang
Sastrawan Marah Rusli. FOTO: Istimewa

NOVEL Siti Nurbaya (1922), karya sastrawan Marah Rusli begitu realis dan detail. Rupanya, karya fiksi ini sebagian merupakan bagian dari pengalaman pribadi sang pengarang. 

Seperti halnya Hamka dalam Tenggelamnya Kapal van der Wicjk, Siti Nurbaya juga merupakan kisah pahit pengarangnya yang terdampar dan merantau untuk selamanya karena dibuang oleh adat.

Marah Rusli sejatinya bukan seorang sastrawan. Dia adalah lulusan ke-15 dokter hewan dari Nederlands Indisch Veearsen School (NIVS) yang menjadi cikal-bakal Institut Pertanian Bogor.

Dalam pengantar buku Memang Jodoh, karya terakhir Marah Rusli yang baru diterbitkan 50 tahun lebih setelah Siti Nurbaya, Marah Rusli menjelang tamat dokter hewan, meminta izin kepada orangtuanya di Padang untuk menikahi seorang mojang Priangan Raden Ratna Kencana binti Kartadjumena.

Gadis ningrat ini telah membuat Marah Rusli nekat. Marah Rusli lupa dengan darah ningratnya sendiri karena wajah cantik putri Pasundan itu membuatnya gelisah dan ingin segera meminangnya.

Lantaran tak mendapatkan restu dari kedua orangtuanya, Marah Rusli akhirnya menikahi Raden Ratna di Bogor pada 2 November 1911 menjelang kuliah berakhir. Sontak pernikahan itu membuat keluarga besar di ranah Minang naik pitam.

Marah Rusli pun dibuang dari adat. Namun, keluarga masih memberikan toleransi. Apabila mau berpoligami dengan gadis yang sudah disiapkan keluarga, sastrawan Padang, Sumatera Barat, 7 Agustus 1889 ini dapat diampuni dan secara adat masih diakui.

Namun, tawaran itu ditolak mentah-mentah. Tidak ada dalam benak Marah Rusli untuk berpoligami atau menduakan Raden Ratna.

Kisah perjodohan adat itulah yang menginspirasi Marah Rusli menulis roman Siti Nurbaya. Roman ini telah melahirkan wacana dan perdebatan tentang adat masa itu. Roman ini juga telah membuka wawasan dan pemberontakan di kalangan masyarakat Indonesia atas adat yang mengungkungnya. Bahkan kritikus sastra HB Jasin telah menempatkan Marah Rusli sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. 

Sedangkan desakan keluarga agar Marah Rusli menerima tawaran untuk berpoligami menginspirasi novel semibiografi Memang Jodoh. Atas wasiatnya, novel tersebut diminta Marah Rusli untuk diiterbitkan setelah tokoh-tokoh yang disebutkan dalam novel tersebut meninggal dunia.

Inilah alasan novel tersebut baru bisa diterbitkan lebih dari 50 tahun setelah penerbitan Siti Nurbaya. Marah Rusli pun yang meninggal dalam usia 78 tahun lebih memilih dikuburkan di Bandung, Jawa Barat, daripada di tanah kelahirannya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)