M. Alfan Alfian

Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. Juga Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute

Kepemimpinan, Setan Gundul, Demagog

Minggu, 10/12/2017 | 14:21

“Revolusi di negara-negara demokrasi pada umumnya disebabkan oleh ketidakpedulian para demagog.”
—Aristoteles, The Politics
 
HAMPIR semua surat kabar yang mampir ke rumah saya pagi ini kompak. Headline-nya terfokus ke kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke kota suci tiga agama itu. Para pemimpin dunia menentangnya, termasuk Presiden Joko Widodo.

Kebijakan Trump kontroversial. Presiden Jokowi (7/12/2017) di Istana Bogor menegaskan kecamannya. Menurutnya, pengakuan sepihak Trump melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum PBB. Kebijakan Trump bisa mengguncang stabilitas keamanan dunia. Jokowi menegaskan kembali keberpihakan Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

Ya, Trump, presiden populis yang suka bikin kontroversi itu, kini tak saja tengah menjadi masalah dalam negeri AS, tetapi sudah menjadi masalah dunia. Mengapa Trump lain dari yang lain? Fenomena Trump sudah banyak diulas orang. Dia merepresentasikan sosok pemimpin yang terpilih secara elektoral di era pasca-kebenaran (post-truth) zaman kita ini. Apakah Trump sejenis “setan gundul”?

Istilah setan gundul menyembul di buku saya, Wawasan Kepemimpinan Politik (edisi baru, 2018, hal. 61). Ia saya ambil dari komentar Nurcholish Madjid (Cak Nur). Dalam wawancaranya dengan Tempo Interaktif (edisi 28 April-4 Mei 2003), Cak Nur berkomentar, “Karena kita telah mengalami demokrasi, siapa pun yang dipilih rakyat, itulah pilihan kita. Memang bisa saja ada kecelakaan. Bisa saja pilihan kita adalah orang yang lemah atau orang buta huruf. Tapi itu absah. Setan gundul pun, kalau jadi presiden pilihan rakyat, apa mau dikata.”

Pengertian setan gundul bisa berimpitan dengan demagog. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, demagog ialah penggerak (pemimpin) rakyat yang pandai menghasut dan membangkitkan semangat rakyat untuk memperoleh kekuasaan. Serasa, pengertian demikian masih koma, belum titik. Apakah seorang demagog, sekadar dalam bingkai memperoleh kekuasaan? Bagaimana kalau kekuasaan sudah ada di genggaman?

Mari kita baca Michael Signer, Demagogue: The Fight to Save Democracy from Its Worst Enemies (Palgrave Maxmillan, 2009). Untuk sampai pada definisi tentang apa itu demagog, Signer berputar-putar menjelaskan demokrasi (hal. 32-34). 

Rupanya, Signer memang hendak menunjukkan bahwa hal ihwal demagog itu terkait erat dengan demokrasi. Demagog membelokkan demokrasi ke tirani (hal. 33).

Orang-orang Yunani kuno pertama-tama menemukan kata “demagog” untuk menggambarkan kelas baru pemimpin massa yang dengan cepat berkembang mengisi kekosongan kekuasaan akibat runtuhnya kelas penguasa elite negarawan. Demagog dikembangkan dari agogos (pemimpin) dan demo (people, khalayak), pemimpin-khalayak (hal. 33).

Para demagog dapat muncul dalam sistem politik yang menghubungkannya dengan khalayak. Di sistem kekaisaran, para demagog tak terbayangkan keberadaannya, karena kekuasaan bergantung secara eksklusif pada hibah dari kaisar atau konselornya. Tapi demokrasi dan sistem lain dengan unsur demokrasi secara intrinsik menciptakan pembuka bagi hadirnya demagog (hal. 34).

Aristoteles menggambarkan demagog sebagai pengganggu, serangga yang tak dapat Anda lepaskan padahal dia memiliki sengatan pahit. Metafora ini menegaskan demokrasi itu binatang yang diganggu hama yang menjengkelkan, yang merayap, merengek dan menyengat sampai binatang itu menginjak-injak segala hal (hal. 34).

Tapi, catat Signer, metafora yang lebih baik, demagog itu retrovirus, di mana mekanisme pertahanan tubuh secara harfiah mulai menulis ulang DNA tubuh sampai tubuh mengubah dirinya sendiri. Para ahli biologi berbicara tentang virus ini sebagai sesuatu yang menakjubkan, karya alam yang rumit dan abstrak (hal. 34). Jadi, demagog itu merusak.

Catatan sistematis terbaik dari demagog benar-benar diberikan hampir dua ratus tahun yang lalu, dalam sebuah esai yang ditulis pada 1838 oleh James Fenimore Cooper, “On Demagogues”. Cooper menulis, seorang demagog, dalam arti yang sangat ketat, adalah seorang “pemimpin rakyat jelata”. Ia sesungguhnya memajukan kepentingannya sendiri, di atas klaim kepentingan rakyat (hal.35).

Seperti yang diakui Cooper, demagog sejati memenuhi empat hal: (1) mereka menjadikan dirinya orang biasa, bukan elite; (2) politik mereka bergantung hubungan kuat dengan orang-orang yang secara dramatis populer; (3) mereka memanipulasi hubungan tersebut, untuk mendapatkan popularitas bagi keuntungan dan ambisinya sendiri; serta (4) mereka mengancam dan melanggar peraturan perilaku, institusi, bahkan hukum yang berlaku. Demagog mematahkan aturan dan undang-undang. Tirani di negara sendiri. Secara eksternal demagog menyerang negara atau kelompok lain, melabrak hukum internasional (hal. 35).

Demagog tak perlu mencapai kondisi seekstrem Hitler untuk merongrong demokrasi. Ilmuwan politik James Ceaser membedakan demagog keras dan lunak. Demagog keras secara aktif membangkitkan gairah melalui antagonisme dan perpecahan. Demagog lunak memanipulasi pujian-pujian dan mengumbar janji yang tidak mungkin diwujudkan. Dalam kedua kasus tersebut, para demagog terhubung dengan kelompok besar orang biasa (hal. 35).

Pembahasan soal demagog bisa berpanjang-panjang penuh ilustrasi. Buku Signer ini tebalnya hampir 300 halaman. Tapi, setidaknya dia menggarisbawahi kalimat penting, “Para demagog adalah musuh yang menakutkan setua demokrasi itu sendiri. Tapi mereka bisa dihentikan. Di dunia kuno, di mana demokrasi ditemukan, demagog muncul hampir secepat kebebasan itu sendiri. Setelah masa perjuangan yang intens, orang Athena menemukan solusi bagi para demagog. Untuk mengingat bagaimana menentang demagog, kita perlu melakukan perjalanan kembali pada waktunya dan mengunjungi tempat kelahiran tidak hanya demokrasi, tapi juga musuh terburuknya sendiri.” (hal. 38).

Bagaimana orang Athena menemukan solusi bagi para demagog?

Perkenankan saya menjadi penulis neo-demagog. Saya berjanji untuk membahasnya lain kali.