logo rilis
Kepala BBSDLP: Bangsa Maju Dimulai dari Tanah Sehat
Kontributor
Fatah H Sidik
12 Mei 2018, 21:06 WIB
Kepala BBSDLP: Bangsa Maju Dimulai dari Tanah Sehat
Lahan pertanian. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Pekanbaru— Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Prof. Dedi Nusryamsi, M. Agr, menyatakan, bangsa yang maju dimulai dari tanah sehat. Sebab, dari situ akan menghasilkan tanaman sehat.

Tanaman sehat menghasilkan pangan sehat yang melahirkan manusia sehat dan cerdas. Kemudian, manusia cerdas akan melahirkan bangsa yang cerdas. Apalagi, manusia diciptakan Tuhan dari tanah. 

"Kita semua diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dari bahan yang berasal dari tanah. Kita menikmati makanan yang semuanya berasal dari tanah. Kita hidup bersama makhluk lain di tanah, dan kita semua akan kembali ke dalam tanah," ujarnya saat Kuliah Umum bertajuk "Sumber Daya Lahan Pertanian Indonesia" Universitas Riau, Pekanbaru, Sabtu (12/5/2018).

Dedi juga mengingatkan, tanah dan lahan selalu berkait erat dengan siklus kehidupan manusia. Selain memaparkan filsafat kehidupan, profesor riset Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Balitbangtan Kementan) ini turut memberikan pemahaman filosofis tentang pentingnya tanah bagi kehidupan manusia.

Katanya, tanah sehat pun mampu menopang pertumbuhan tanaman dan hewan secara maksimal serta bebas dari bahan pencemar dan organisme pengganggu tanaman. Karenanya, Dedi mengajak seluruh hadirin menjaga tanah, lahan, dan air.

"Kita harus pelihara dan kelola tanah ini untuk kemaslahatan hidup semua makhluk dengan baik, benar, dan bijak," imbaunya pada kegiatan dalam rangka peringatan Milad ke-27 Fakultas Pertanian Unri dan dihadiri lebih dari 160 peserta itu.

Pasa kesempatan tersebut, Dedi turut menyampaikan visi Lumbung Pangan Dunia 2045. Baginya, gagasan ini merupakan keniscayaan yang harus dicapai bangsa Indonesia.

Skenario Lumbung Pangan Dunia 2045, menurutnya, ditempuh melalui beberapa hal. Yakni, swasembada pangan nasional (domestic quantity), penyediaan produksi berlimpah dan stabil, peningkatan daya saing, peningkatan ekspor, dan ketersediaannya yang kontinu.

Dedi melanjutkan, Indonesia akan menjadi incaran dunia, karena beriklim tropis dan sumber energinya melimpah, seperti matahari. Negara-negara sub-tropis akan memburu energi tersebut dan datang ke negara-negara tropis.

Berdasarkan data Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, ungkap Dedi, 258 juta jiwa penduduk ditopang sekitar 48 juta hektare lahan pertanian. Perinciannya, 23 juta hektare perkebunan, 17 juta hektare lahan kering, dan 8,1 juta hektare lahan sawah. Namun, 12 juta hektare lahan di antaranya dalam kondisi terlantar.

Ditinjau dari aspek sebaran sumber daya lahan, Indonesia memiliki daratan seluas 191,1 hektare yang terdiri dari 43 juta hektare lahan basah, 144,5 juta hektare lahan kering, dan 3,1 juta hektare lahan lainnya.

Meskipun sumber daya lahan pertanian dari aspek luasan nampak luas. Tapi, bila ditinjau dari aspek kepemilikan, rata-rata petani hanya memiliki lahan seluas 935 meter persegi per kapita.

Karenanya, kata Dedi, upaya swasembada pangan bukan tanpa ancaman. Ancaman yang dapat menghambat pencapaian swasembada pangan, adalah peningkatan jumlah penduduk sebesar 1,19 persen per tahun, konversi lahan sawah, pola konsumsi pangan masyarakat, degradasi lahan yang menyebabkan lahan marjinal, fragmentasi lahan, serta perubahan iklim.

"Tantangan yang makin besar terhadap swasembada pangan, adalah bagaimana melakukan optimalisasi dan tata kelola lahan-lahan yang tersisa, yang tidak lain merupakan lahan marjinal," jelasnya.

Dedi menekankan, lahan merupakan faktor produksi yang sangat penting dan strategis untuk pembangunan pertanian nasional. Karenanya, semua pihak diajak manfaatkan lahan secara maksimal dengan tata cara dan tata kelola yang baik dan benar.

Dengan tata kelola yang baik dan benar, diyakini produktivitas lahan tinggi. Di saat yang sama, fungsi lahan pertanian takkan berkurang.

"Ayo, kita pelihara dan kelola tanah kita dengan sebaik-baiknya. Sehingga, fungsi dari tanah tidak akan berkurang, bahkan fungsi tanah akan semakin meningkat untuk kemaslahatan hidup kita," pungkas Dedi.

Sumber: Saefoel Bachri/Balitbangtan Kementan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)