logo rilis
Kepala Bappeda Sulut: Kami Terpaksa Batasi Turis Asing
Kontributor
Yayat R Cipasang
23 April 2018, 18:44 WIB
Kepala Bappeda Sulut: Kami Terpaksa Batasi Turis Asing
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulut Ricky S Toemandoek. FOTO: Humas MPR

SUNGGUH ironis dengan dunia pariwisata di Sulawesi Utara (Sulut). Ketika Kementerian Pariwisata manargetkan 20 juta turis asing masuk ke Indonesia, Pemprov Sulut justru membatasi wisatawan asing dengan sejumlah alasan seperti keterbatasan tenaga imigrasi, bandara yang tidak memadai serta kamar hotel yang minim.

Padahal sulut tahun lalu saja dikunjungi 120 ribu turis dari Tiongkok setelah tiga maskapai dalam negeri, Garuda Indonesia, Sriwijaya Air dan Lion Air melayani penerbangan langsung dari 10 kota di China langsung ke Manado.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulut Ricky S Toemandoek dalam perbicangan dengan redaktur rilis.id Yayat R Cipasang di Bunaken, baru-baru ini, menjelaskan tentang persoalan dunia pariwisata dan juga solusinya. Berikut perbincangan selengkapnnya.

Seperti apa perkembangan industri pariwisata di Sulut?

Sulawesi Utara sangat disukai turis China. Kunjungan wisatawan naik 400 persen dan mayoritasnya dari China. Wisatawan dari China saja tahun lalu sampai 120 ribu orang. Ini di luar turis dari Eropa dan Jepang. 

Kenapa turis China banyak berkunjung ke Sulut?

Saya kira ini karena jarak juga. China dengan Sulut itu sangat dekat dan dapat ditempuh dalam 3,5 jam. Ditambah lagi kita juga membuka penerbangan langsung dengan 10 kota di China. Dari Manado ini mereka menyebar ada yang Gorontalo, Sulawesi Selatan dan ke Raja Ampat.

Selain jarak yang dekat dan juga penerbangan langsung, apa saja daya tarik Sulut bagi turis China?

Setelah kita pelajari turis China itu ternyata sangat suka dengan pantai dan kuliner. Di Sulut ini banyak sekali destinasi wisata pantai yang menurut orang China sangat menarik. 

Ada berapa penerbangan sehari dari China ke Bandara Sam Ratulangi?

Ada empat penerbangan yang dilayani oleh maskapai Garuda, Sriwijaya Air tapi yang paling banyak itu Lion Air. Mudah-mudahan tahun ini ada pembangunan untuk apron karena fasilitas dan kapasitasnya sudah tidak memadai lagi. 

Kabarnya otoritas bandara sempat menolak turis dari China, kok bisa?

Masalah utama karena kami memiliki keterbatasan sumber daya manusia di imigrasi. Apron sudah tidak dapat menampung lebih banyak pesawat. Pernah suatu waktu pesawat yang mengangkut turis terpaksa mendarat di Bandara Gorontalo karena Bandara Sam Ratulangi sudah penuh.

Seberapa parah SDM imigrasi di Sulut?

Kebutuhan tenaga imigrasi sangat mendesak. Karena selama ini personel imigrasi yang berjumlah 6 orang sudah tidak memadai lagi untuk melayani turis asing terutama dari China yang setiap pesawat itu mengangkut sekira 200 sampai 300 orang. Karena tidak terlayani semuanya hari itu, terpaksa esok harinya.

Turis asing kini dibatasi hanya sekitar 100 ribu per tahun. Ini juga terkait dengan fasilitas hotel yang hanya tersedia 7.000 kamar.

Apa solusi untuk memecahkan persoalan kekurangan kamar hotel yang dilakukan Pemprov Sulut?

Kita sudah akan berembuk dengan DPRD segera membahas perubahan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW). Saya kira ini bisa memecahkan persoalan sehingga investor juga tertarik untuk membangun hotel di Sulut.

Sejauhmana progres pembangunan Bandara Likupang?

Perseroan terbatas yang bertanggung jawab untuk membangun bandara sudah terbentuk. Mengenai pendanaan melibatkan APBD, APBN dan juga investor swasta. Investor dari China sudah siap untuk mendanai pembangunan badara di Kawasan Ekononi Khusus (KEK) Pariwisata Likupang.


500
komentar (0)