Home » Inspirasi » Opini

Kepahlawanan Lafran

print this page Jumat, 10/11/2017 | 23:18

Ilham Akbar Mustafa. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

Oleh Ilham Akbar Mustafa
Penulis adalah Wasekjen PB HMI, mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia

PEMBERIAN gelar pahlawan nasional memang selalu terdengar elitis dan ekslusif. Namun ada kesadaran kritis yang muncul bahwa imajinasi tentang kepahlawanan tak mesti bersandar pada personifikasi ataupun narasi besar ketokohan.

Pada satu titik barangkali kita akan tersadar, bahwa pahlawan bukanlah tentang sebuah nama. Melainkan epos atau cerita riwayat perjuangan dan sikap kepahlawanan. Kesadaran ini pula yang memastikan kita untuk mengingat sejarah dengan benar.

Tapi tentu kita tahu, bahwa ketika seseorang memilih untuk melakukan sesuatu yang besar di masa lalu, karena sadar bahwa asupan bagi setiap jengkal perubahan adalah kerja keras dan konsistensi—tak bisa hanya dengan menjadi pengamat sembari berpangku tangan di atas menara gading—maka sesungguhnya gelar kepahlawanan adalah penghormatan yang paling pantas untuk diberikan kepadanya.

Kemarin, lewat keputusan Presiden No 115/TK/2017, pemerintah telah menetapkan Lafran Pane sebagai salah satu pahlawan Nasional. Tentu dibalik ini, sejatinya gelar pahlawan nasional adalah arah cerita yang tak pernah Lafran bayangkan sebelumnya.

Lafran tidak pernah mengidentifikasikan dirinya sebagai individu heroik apalagi manusia yang bekerja dan menghamba pada simbolitas. Lafran adalah sosok yang menentang pelbagai kemegahan-kemegahan moralitas.

Tepatnya, yang diimani olehnya adalah setiap orang memiliki tugas dan kewajiban sebagai seorang manusia.

Sebagai manusia, Lafran melawan ketertundukan terhadap pelbagai penindasan. Tapi Lafran juga sadar bahwa segala kecupetan nalar dan berpikir harus segera diakhiri. Lafran lebih mirip sesosok manusia reformis yang ingin mengabdikan diri di jalan kemanusiaan.

Label egalitarianisme merupakan hal yang melekat pada sosok Lafran. Ia tak melihat perbedaan agama atau ras sebagai sesuatu yang mesti berlawanan. Bahkan kelahiran Lafran merupakan wujud pertalian erat gagasan keIslaman dan keIndonesiaan. Bagi Lafran yang paling fundamental dari beragama adalah penghormatan terhadap kemerdekaan sebagai sesuatu yang azali, dan karena itu mesti disusul dengan penghormatan atas keberagaman.

Tak banyak orang seperti Lafran yang mampu hidup diruang konteks saat itu. Kepiawaian menciptakan ide besar dan kemampuan dirinya memgorganisir kesadaran banyak orang adalah barang mewah yang tak semua orang miliki.

*

Di era-era itu, ketika banyak orang hanyut dalam eforia kemerdekaan, Lafran bergerak masuk-keluar kampus untuk melakukan gerilya baru. Bagi Lafran, kemerdekaan bukanlah sebuah pemberian langsung dari langit. Lafran resah dan kemudian menghentak lingkungan dimana dia hidup lewat gejolak jiwa seorang patrotik pemuda.

Proses ini setidaknya merangsang gairah kemajuan publik. Penetrasi yang dilakukan Lafran kemudian mengantarkan dirinya pada sebuah kelahiran. Lafran sebagai anak muda yang kaya dengan perspektif berhasil memicu kemunculan berbagai gelombang aktivisme.

Pada fase selanjutnya, di Yogyakarta, Lafran Pane muda kemudian mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam.

Terbentuknya HMI sejak 1947 hingga saat ini, telah membetuk persepsi publik bahwa HMI dan Lafran Pane hanya sekadar keterkaitan antara si pendiri dan sebuah organisasi.

Namun tidak berarti seperti itu. HMI adalah proyeksi awal dari serangkaian rencana besar Lafran. Membentuk HMI adalah upaya Lafran untuk menciptakan senjata dan tameng untuk menghadapi dunia yang baru.

Tak dapat dipungkiri bahwa imajinasi politik Lafran memang selalu mendahului para sejawatnya. Dia membuat loncatan-loncatan besar di tiap jejaknya.

Jejak tersebut mudah dipahami. Lafran Pane adalah orang yang sejak lama akrab dengan politik. Lafran bertumbuh dalam situasi ketika Muhammadiayah, organisasi pembesar dia dan keluarganya sedang bersimpul dan mendefinisikan diri sebagai “cahaya baru” atas kehidupan Islam di kala itu.

Lain Muhammadiyah lain juga dengan Lafran. Pada konteks kehidupan Islam, Lafran meyakini bahwa untuk menjadi sebuah kekuatan, Islam harus mampu hadir secara inklusif terhadap seluruh kelompok-kelompok lainnya. Islam meniscayakan sikap toleran dan keterbukaan kepada pikiran-pikiran baru yang muncul selama hal itu tidak bertabrakan dengan prinsip-prinsip dasar di dalam islam.

Maka penting kiranya, sebagai agenda keberislaman yang semacam itu, gerakan moderatisasi menjadi salah satu acuan berislam yang tepat. Keberislaman yang dihidupkan dengan model demikian, menurut Lafran akan memberi corak yang baru terhadap kehidupan umat dan bangsa. Spirit pembaharuan Islamlah yang diyakini Lafran sebagai nafas utama dari kebelangsungan HMI di masa mendatang.

Sikap dasar untuk menjadi moderat bagi Lafran adalah konsep sederhana tentang manusia yang berpikiran terbuka, adaptif terhadap perubahan zaman, responsif terhadap problem kebangsaan, keumatan, dan kemanusian, handal dan inovatif dalam pengembangan teknologi serta menguasai basis profesionalisme keilmuan sebagai jalan pengabdian.

Bila dicermati kembali kegundahan yang dirasakan oleh Lafran, sebenarnya keprihatinannya ialah kejumudan dan kemandegan gerakan Islam di saat itu. Lafran ingin gerakan Islam tidak hanya sekadar reaksi datar tanpa makna, namun sebagai formula antidot atas kolonialisme dan keterbelakangan umat.

Islam tidak boleh menepi dari laju perkembangan teknologi dan pengetahuan. Pada sisi yang lain, Islam merupakan persenyawaan antara kemanusian universal dan perasaan kolektivisme.

Dengan demikian, membuat gerakan Islam menurut Lafran, pada intinya adalah semacam respon politik atas imperialisme ekonomi-politik dan ekspansi politik global yang kian hari menyelimuti bangsa Indonesia.

Diakui atau tidak, tradisi keislaman seharusnya bertolak pada hal mendasar yang demikian. Dan inilah yang Lafran Pane tunjukan kepada kita lewat perjuangannya. Dalam banyak hal, Lafran memperlihatkan bahwa dirinya tidak bisu dengan berbagai persoalan yang terus mendera Indonesia.

Dan yang terpenting, Lafran sadar bahwa ada kepentingan universal yang lebih besar yang harus didorong yaitu, kepentingan untuk menegakan keadilan dan kemanusiaan di tanah Indonesia. Terlebih perasaan primordial yang dipelihara telah menjadi pupuk yang menyuburkan kepentingan kolonialisme untuk terus menggerogoti kehidupan bangsa Indonesia. Dan karena itu, harus diakhiri.

Lafran sudah wafat dan tentu saja sosoknya membawa kita pada titik perenungan yang dalam.

Dalam konteks Indonesia saat ini, perenungan ini tentu akan mendaras kita—terutama kelompok muda—untuk mengoreksi kembali imaji tentang narasi kepahlawanan. Kita tentu sadar, bahwa kita tengah berhadapan dengan anomali-anomali baru.

Sebagai generasi pembaharu, kita mestinya tidak hidup untuk membakar pertengkaran sosial, kita ada bukan untuk merawat rasa dendam, kita ada bukan untuk saling berkonflik apalagi melanggengkan berbagai kedunguan.

Tak bisa ditampik sebuah fakta bahwa, kita hidup kini dalam mata rantai kedunguan yang amat panjang. Di media sosial misalnya, kita hidup di twitter, facebook, dan Instagram. Kita menulis status dan membagikan video. Tapi kita tidak meyadari bahwa kita sedang menghadapi sebuah problem yang sangat besar. Problem itu adalah indeks minat baca yang terus mengkhawatirkan.

Belajar dari pendahulu seperti Lafran adalah pembelajaran kepada diri kita agar tidak berhenti berdenyut dan memberi sikap atas situasi zaman. Kita harus menantang arus utama yang setiap kali memenjarakan.

Kita menerima sebuah fakta bahwa menjadi pahlawan tidak mesti dirujukkan dengan aksi hero seperti memanggul senjata. Maka dari itu, menjadi pahlawan bisa dengan mengambil cara-cara yang lain. Menjadi pahlawan ketika melawan dominasi rente, menjadi pahlawan ketika menghancurkan politisi busuk, bertindak pahlawan adalah menjaga dan mengawal terus akal sehat di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang makin surplus atraksi tapi defisit substansi.

Karena bukan hal mustahil, generasi pembaharu seperti kita tidak lain adalah jawaban atas setumpuk masalah yang kini tengah hadir yakni, beban ketenagakerjaan, pembangunan ekonomi, isu keberlanjutan lingkungan, bahkan pada persoalan sosial-politik Negara ini. Generasi pembaharu ialah kunci persoalan di kehidupan-kehidupan berikutnya.

Maka tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa Lafran telah berjasa besar dalam membuat titik balik sebuah generasi baru. Lafran boleh dianggap bukanlah pahlawan superhero dalam cerita-cerita besar di dalam buku. Namun kepahlawanannya adalah cerita tentang orang-orang yang tegak di dalam ketawadhuan dan keihklasan. Kisah tentang manusia yang tak menyerah kepada lembar hidup sejarah.

Lafran tentu tak tahu bahwa perjuangannya akan berakhir pada kebesaran dirinya. Lafran tentu tak pernah berharap bahwa apa yang ia pupuk sekian lama dihargai oleh Negara menjadi arsip nasional.

Muchas Gracias, Lafran!

Tags:

HMIPahlawan NasionalLafran Pane

loading...