logo rilis
Kendalikan Harga Bawang Putih, Kementan Terbitkan Permentan RIPH
Kontributor
Fatah H Sidik
28 Maret 2018, 14:40 WIB
Kendalikan Harga Bawang Putih, Kementan Terbitkan Permentan RIPH
Bawang putih. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Terbitnya Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (Permentan RIPH) dalam rangka mengendalikan inflasi yang disebabkan tingginya harga bawang putih.

Hal itu terjadi, kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura, Prihasto Setyanto, lantaran Indonesia masih ketergantungan terhadap bawang putih impor. Artinya, kendali pasokan bergantung kepada importir.

"Adanya gejala kenaikan harga bawang putih akhir-akhir ini, disinyalir merupakan imbas dari terganggunya sistem penyediaan yang belum optimal dilakukan," ujarnya di Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Berdasarkan data Bank Indonesia Perwakilan DKI, inflasi di Ibu Kota pada Februari 2018 sebesar 0,37 persen. Salah satunya, akibat harga bawang putih meningkat 7,22 persen.

Dalam Permentan RIPH sendiri, Kementan mewajibkan importir tanam bawang putih sebanyak lima persen dari total impor yang diajukan. Asumsinya, produktivitas enam ton per hektare.

Baca: Spudnik Sujono: Permentan RIPH Selaras dengan Instruksi Presiden

Sejak Januari sampai minggu ketiga Maret 2018, Kementan telah menerbitkan RIPH kepada 45 perusahaan terverifikasi dan memenuhi wajib tanam lima persen. Total volume pengajuan impor 499.264 ton. Perinciannya, 491.264 ton bawang putih segar dan 8.000 ton bahan baku industri.

Jika seluruhnya direalisasikan, kata Anton, sapaan Prihasto, cukup memenuhi kebutuhan nasional selama satu tahun atau sebesar 45 ribu ton per bulan. Adapun daerah sentra produksi, adalah Temanggung, Karanganyar, Lombok Timur, Karo, Kota Batu, Banyuwangi, Lombok Timur, dan Bima dengan luas lahan 5.000 hektare.

"Pertanaman oleh importir sendiri turut menyumbang 1.400 hektare yang kemudian diapresiasi dengan diberikannya RIPH sesuai dengan Permentan 38 Tahun 2017," jelasnya.

Baca: Punya 116 Hektare Lahan, Banyuwangi Jadi Sentra Baru Bawang Putih

Mantan Kepala Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah ini menambahkan, produktivitas panen rata-rata di Temanggung, Magelang, dan Banyuwangi sekira 10-12 ton per hektare. Sebagian besar dimanfaatkan menjadi benih untuk menunjang swasembada bawang putih.

"Harga bawang putih lokal mencapai Rp25 ribu-Rp30 ribu per kilogram. Bawang putih lokal terkenal dengan aroma yang sangat kuat hingga lima kali lipat aroma bawang putih impor. Seiring dengan makin banyaknya panen, masyarakat diharapkan bisa beralih mengkonsumsi bawang putih lokal," tuntas Anton.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)