logo rilis

Kenapa Perilaku Asusila Dua Pelajar SMK di Bulukumba Bisa Terjadi?
Kontributor
Zulyahmin
16 Juni 2019, 15:30 WIB
Kenapa Perilaku Asusila Dua Pelajar SMK di Bulukumba Bisa Terjadi?
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Denpasar— Dunia pendidikan kembali tercoreng setelah munculnya video mesum yang diduga dilakukan pasangan pelajar SMK di Bulukumba, Sulawesi Selatan tersebar melalui media sosial. Kedua pelaku diduga berinisial AM (pria) dan WA (wanita) yang merupakan siswa kelas 10 di salah satu SMK di kabupaten tersebut.

Lantas, kenapa perilaku asusila dua pelajar itu bisa terjadi? 

Ahli psikologi klinis dari RSUD Wangaya, Kota Denpasar, Bali, Nena Mawar Sari, menilai, perilaku asusila terjadi karena komunikasi yang buruk antara anak dengan orang tua. Sehingga, menurutnya, anak kemudian beralih ke lingkungan, di antaranya media sosial.

"Yang paling utama adalah peran orang tua dalam memberikan penanaman nilai nilai moral yang baik, jika komunikasi baik di dalam keluarga, maka apapun yang ada di luar sana setidaknya tidak banyak memberikan dampak negatif kepada anak," katanya di Denpasar, Minggu (16/6/2019).

Menurut hipnoterapis itu, orang tua sebaiknya sering berdiskusi tentang apapun dengan anak dan mengapresiasi pendapat anak. Dengan begitu, peran orang tua akan menjadi utama, karena anak merasa diperhatikan dan dihargai.

"Sekolah juga bisa memberikan informasi melalui pelajaran atau 'sharing' tentang masalah-masalah remaja. Pemerintah juga sebaiknya menggalakkan kegiatan kepemudaan serta menyaring konten-konten yang ada di media sosial," ujarnya.

Namun, ungkap Nena, masyarakat juga tidak perlu mengganggu psikologis kedua pelajar yang baru menikah itu, karena itu masyarakat hendaknya berhenti menyebarluaskan video tersebut.

Masyarakat disebutnya jangan "membunuh" masa depan mereka dengan penyebaran aib itu secara terus-menerus.

Nena Mawar Sari yang juga psikolog di RS Balimed Denpasar itu menegaskan bahwa penanaman nilai-nilai karakter sejak dini, pola pengasuhan yang tepat, sangat berdampak kepada bagaimana keterampilan seorang anak dalam mengelola emosinya kelak.

"Pola asuh orang tua terhadap anak yang kurang sesuai, kurang kedekatan secara fisik, dan emosional anak terhadap orang tua juga menjadi celah bagi anak untuk meniru perilaku-perilaku negatif yang didapat dari luar," ungkap dia.

Bila sudah terlanjur, lanjut dia, penguatan positif dan mendukung pelaku untuk mengubah perilaku negatifnya merupakan salah satu hal yang dapat dilakukan. Sebaiknya, anak dilatih untuk berbuat baik dan menyesali kesalahannya tersebut.

Hal ini juga berdampak positif terhadap, korban karena perlahan-lahan hubungan keduanya akan membaik secara sadar maupun bawah sadar. Orang tua, guru, dan masyarakat wajib memberikan perhatian dan pembinaan bagi anak dan remaja.

"Tenaga profesional di bidang kesehatan mental juga bisa mendampingi korban agar dapat segera pulih dan tidak memiliki trauma atas apa yang dialami, termasuk perundungan (bullying) dari masyarakat melalui media sosial yang viral," tandasnya.

Sebelumnya, anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, meminta masyarakat untuk tidak turut menyebarkan video berisi pornografi anak yang diduga dilakukan oleh pelajar SMK di Bulukumba, Sulawesi Selatan, di media sosial, dan marak beredar di media sosial.

"Kami minta publik untuk tidak membagikan video itu karena itu tindak pidana. Kedua, kalau di-share, itu akan membahayakan bagi tumbuh kembang anak," katanya saat dihubungi, di Jakarta.

Sumber: Antara




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID