logo rilis
Kenapa Jokowi Sebut Nama Cak Imin? Ini Perhitungannya
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
16 Juli 2018, 19:25 WIB
Kenapa Jokowi Sebut Nama Cak Imin? Ini Perhitungannya
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman.

RILIS.ID, Jakarta— Muhaimin Iskandar (Cak Imin) bisa saja dianggap spesial oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Penyebutan nama Ketua Umum PKB itu sebagai kandidat cawapres yang sudah dikantunginya, memiliki makna politis tersendiri.

"Penyebutan nama Cak Imin (Muhaimin) oleh Presiden Joko Widodo menjadikan Cak Imin spesial," kata kata pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin di Jakarta, Senin (16/7/2018).

Menurut Said, PKB yang didukung kaum nahdliyin memiliki basis dukungan masyarakat yang besar. Contohnya, pada Pilkada Jawa Tengah dan Jawa Timur, suara PKB menunjukkan trend meningkat.

"Pada pilkada Jawa Tengah, pasangan Sudirman Said dan Ida Fauziyah meraih suara 41 persen atau sekitar 3 juta," katanya.

Kemudian, pada pilkada Jawa Timur, PDI Perjuangan bersama PKB mengusung pasangan, Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno. Meski kalah dari Khofifah dan Emil Dardak, namun lewat PKB mereka memperoleh suara 46 persen.

"Penyebutan nama Cak Imin oleh Pak Jokowi, jadi memiliki makna tersendiri," katanya.

Menurut Said, nama Cak Imin disebut langsung oleh Joko Widodo sebagai salah satu bakal cawapres dari nama-nama bakal cawapres yang sudah mengerucut menjadi lima nama. Ini menunjukkan bahwa ketum parpol ini diperhitungkan.

"Apalagi, dari lima nama itu ada juga tokoh dari luar parpol," katanya.

Said menambahkan, penyebutan nama Muhaimin sebagai salah satu cawapres merupakan keberhasilan strategi PKB dalam memengaruhi Joko Widodo.

Di antara strategi itu, kata dia, sejak jauh-jauh hari Muhaimin dan elite PKB gencar melempar jargon, PKB akan mendukung Jokowi jika Muhaimin yang menjadi cawapres, meluncurkan JOIN (Jokowi-Cak Imin), Cinta (Cak Imin untuk Indonesia).

"Juga isu Jokowi akan terancam kalah jika tak bersama Cak Imin, dan lain lain," ujar Said.

Menurut dia, strategi PKB itu terbukti efektif sebab jika syarat itu tidak dipenuhi, maka ada kemungkinan PKB akan mendukung capres yang lain, sehingga tidak diharapkan Jokowi.

Said menjelaskan, strategi politik PKB yang langsung berkomunikasi dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua umum Partai Gerindra Prabowo Subinato, dan ketua umum partai politik lainnya, untuk menjajagi kemungkinan poros ketiga.

"Strategi PKB cukup berhasil, meskipun Jokowi belum tentu memilih Muhaimin," katanya.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)