logo rilis
Kenang 100 Hari Bom Surabaya, Anita Wahid Menangis di Makam Gus Dur
Kontributor
Budi Prasetyo
25 Agustus 2018, 19:30 WIB
Kenang 100 Hari Bom Surabaya, Anita Wahid Menangis di Makam Gus Dur
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Surabaya — Kesedihan terpancar di wajah Anita Wahid saat mengisi acara peringatan 100 hari tragedi bom Surabaya di Warung Mbah Cokro pada Jumat malam (26/8/2018). Anita pun mengingat, saat ledakan bom terjadi, kebetulan dirinya sedang berada di makam sang ayahanda Abdurrahman Wahid. Dia pun menangis di makam ayahandanya itu. Perasaan sedih, bingung dan kalut bercampur menjadi satu tatkala membaca rentetan berita mengenai ledakan bom Gereja Surabaya.

"Ketika perjalanan saya membaca berita rentetan bom berikutnya dan berikutnya. dan saat di pesarean Gus Dur saya cuma bisa nangis," katanya dengan mata berkaca-kaca. 

Di atas pusara Gus Dur, Anita pun mengucapkan beberapa kata sebagai ungkapan rasa prihatin. 

"Saya ingat banget waktu itu. Saya cuma bilang pak, kami butuh banget kekuatanmu. Kami butuh banget jiwamu saat ini dengan semua yang diuji saat ini," ujarnya. 

Anita pun mengungkapkan rasa sedih dan prihatin dalam sebuah puisi, yang dibacakan dalam peringatan 100 hari tragedi bom Gereja Surabaya itu. 

"Kedamaian yang selama ini kita bisa bersama luluh lantak karena teror yang mendera. Ledakan demi ledakan bergema disaat sebagaian warga berleha-leha, menikmati hari minggu yang indah, sementara sebagaian lain mempersiapkan ibadah," bunyi setengah puisi tersebut. 

Anita berharap, masyarakat bisa bangkit dan menatap masa pasca ledakan bom gereja Surabaya yang terjadi 100 hari yang lalu. Menurut dia, 

Walaupun itu sebuah tragedi tetapi kita bukan berarti tidak bisa menggunakannya untuk bangkit. Hari ini kita menjadikan sebagai hari persaudaraan sejati," katanya. 

Dia berharap masyarakt bisa menghargai perbedaan dan tidak mengedepankan kekerasan dalam menyikapi konflik yang ada. 

"Mereka yang berbeda sama dengan kita, sama sama saudara. Kita mengingat lagi semua nilai yang diajarkan orang tua pada zaman dulu, tabayun dan menghindari konflik," tambahnya.

Editor: Elvi R




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID