logo rilis
Kemenpora Khawatirkan Tren Menurunnya Partisipasi Keagamaan Pemuda
Kontributor

15 Maret 2018, 18:23 WIB
Kemenpora Khawatirkan Tren Menurunnya Partisipasi Keagamaan Pemuda
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) khawatir dengan tren turunnya partisipasi generasi muda pada kegiatan keagamaan. Sebab, sesuai Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) 2015, angkanya berada di kisaran 51.72 persen.

"Jika tren ini berlanjut, maka indeks tersebut dapat menyentuh angka di bawah 10 persen pada tahun 2025," ujar Asisten Deputi Peningkatan Iptek dan Imtak Pemuda Kemenpora, Esa Sukmawijaya, pada diskusi "Implementasi Perpres 66/2017", Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam laporan Susenas BPS 2009, partisipasi pemuda dalam kegiatan keagamaan menunjukkan angka 67,18 persen. Lalu, turun ke 55,13 persen di 2012. Tiga tahun berselang, menjadi 51,72 persen. Berdasarkan wilayah, di perdesaan mencapai 58,84 persen dan perkotaan hanya 45,30 persen.

Indeks Partisipasi Kegiatan Keagamaan Pemuda diukur dengan tiga indikator. Pertama, keaktifan kegiatan pengajian atau persekutuan doa. Kedua, ceramah keagamaan. Terakhir, perayaan hari besar keagamaan. Ketiganya diukur berdasarkan kegiatan keagamaan pemuda di rumah ibadah maupun di tempat lain.

Pada kesempatan sama, peneliti Merial Institute, Nisa Basti, mendorong adanya upaya sistematis dan terintegasi dalam peningkatan partisipasi keagamaan pemuda dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) Kepemudaan. RAN Kepemudaan terdapat dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 66 Tahun 2017 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaran Pelayanan Kepemudaan.

Dia juga meminta kebijakan di sektor kepemudaan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan (evidence based policy). "Selama ini, sering terjadi perbedaan antara program pemerintah dengan kebutuhan di lapangan," ungkapnya.

"Sehingga, pemerintah dan stakeholder cenderung jalan masing-masing," imbuh dia, sebagaimana siaran pers yang diterima rilis.id, Jakarta, Kamis (15/3/2018). Akibatnya, capaian kebijakan pemerintah menjadi tak terukur dan tidak bisa dievaluasi.

Untuk menggenjot partisipasi pemuda dalam kegiatan keagamaan, kata Nisa menyarankan, pemerintah bisa mulai dengan memberlakukan koordinasi lintas strategis antarlembaga negara.

"Misalnya, jika pemerintah menetapkan target peningkatan satu persen per tahun, artinya sasaran kebijakan tersebut jelas, yaitu terjadi peningkatan partisipasi sekitar 620 ribu pemuda lebih aktif di rumah ibadah," jelasnya. Untuk mencapainya, lembaga-lembaga terkait membagi program tersebut sesuai tugasnya.

Nisa turut mengusulkan tempat ibadah menjadi pusat kegiatan pemuda (youth centre). Dengan demikian, rumah-rumah ibadah juga menjadi sarana pertumbuhan dan pembelajaran masyarakat di sisi ekonomi dan sosial-budaya. "Agar ke depannya semakin baik," tutupnya.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID