logo rilis
Kemenparekraf Dengar Masukan dalam Uji Publik Program Aksilarasi Labuan Bajo
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
20 November 2020, 11:35 WIB
Kemenparekraf Dengar Masukan dalam Uji Publik Program Aksilarasi Labuan Bajo
FOTO: Kemenparekraf

RILIS.ID, Labuan Bajo— Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar uji publik program Aksilarasi (Aksi Selaras Sinergi) Labuan Bajo, Kamis (19/11/2020). Uji publik itu digelar guna mengkaji hasil karya produk unggulan dari empat subsektor kreatif meliputi seni musik, seni rupa, seni pertunjukan, dan penerbitan yang telah didampingi selama tiga bulan. 

Direktur Musik Seni Pertunjukan dan Penerbitan Kemenparekraf, Mohammad Amin, mengatakan, uji publik aksilarasi digelar secara daring agar karya-karya tersebut dapat dinikmati sekaligus mendapat masukan dari masyarakat. 

“Uji publik ini yang dinilai adalah pencapaian produk. Kami juga mengundang penangkap karya untuk memberikan masukan konstruktif dan menilai terhadap produk yang dihasilkan, tujuannya agar produk kreatif yang dihasilkan nantinya layak diperbanyak untuk dijadikan produk parekraf,” kata Amin sela acara Uji Publik Program Aksilarasi di Labuan Bajo, Kamis (19/11/2020). 

Program aksilarasi yang bertujuan mendukung Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas ini sudah dimulai sejak September 2020. Seiring dengan itu juga telah dilaksanakan kegiatan inkubasi pada 3 sampai 16 Oktober 2020 untuk menghasilkan produk unggulan dari empat subsektor tersebut.

Adapun karya yang diuji publik sebanyak 16 karya, yakni meliputi seni musik sebanyak tiga karya yakni Sompo, Flores Human Orchestra, dan Labuan Bajo World Band. Lalu ada seni pertunjukan sebanyak delapan karya yang terdiri dari tiga tari berbasis tradisi, dua tarian animal pop komodo, dan seni pertunjukan teater. 

Kemudian terdapat naskah yang terdiri dari cerita rakyat, pertunjukan kolosal. Ada pula seni rupa berupa site specific. Terakhir, ada enpat karya penerbitan yang terdiri dari tiga dummy buku seri mengenal Labuan Bajo, dan satu peta jelajah Labuan Bajo. 

Setelah diadakan uji publik, kata Amin, Kemenparekraf akan terus melakukan pendampingan kepada peserta program aksilirasi sampai lima tahun ke depan. 

“Tahun 2020 ini merupakan tahun produksi. Jika tahun ini belum sempurna maka masih ada tahun berikutnya. Kita akan terus melakukan pendampingan selama 5 tahun sampai akhirnya produk kreatif ini matang,” ujarnya. 

Sastrawan Nusa Tenggara Timur, yang juga menjadi penanggung jawab di subsektor penerbitan, Dicky Senda, mengaku senang dengan adanya uji publik aksilarasi. Pasalnya, menurut dia,  dummy buku yang telah ia dan 30 peserta Aksilarasi siapkan, akan mendapat berbagai masukan agar kualitasnya menjadi lebih baik lagi. 

“Uji publik kami masih dapat dibilang baru 50 persen, akan masih banyak revisi, dan tentu saja uji publik ini menjadi bagian dari perkembangan kami menjadi lebih baik. Jadi nantinya harapan kami buku-buku ini dapat dicetak dan didisplai di ruang publik, dan dapat dijadikan sebagai panduan para turis saat berwisata ke Labuan Bajo,” ujar Dicky. 

Sementara itu Penanggung Jawab Subsektor Seni Rupa, Heri Pamad, berharap dengan adanya program Aksilarasi, produk seni rupa juga bisa menjadi salah satu identitas di destinasi wisata Labuan Bajo. 

“Seperti harapan bersama, Labuan Bajo tidak hanya bisa dikenal dengan komodo dan keindahan alamnya saja, tapi juga ikon yang kemudian sangat kuat citranya pada unsur seni rupanya,” ujar Heri. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID