logo rilis

Kemendikbud: Implementasi PPK Cegah Paham Radikal Merebak di Sekolah
Kontributor
Tari Oktaviani
16 Mei 2018, 15:41 WIB
Kemendikbud: Implementasi PPK Cegah Paham Radikal Merebak di Sekolah
Terorisme, Teroris, bom. ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Staf Ahli bidang Pendidikan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Arie Budiman mengatakan implementasi Pendidikan Penguatan Karakater (PPK) mencegah paham radikal merebak di sekolah. Utamanya, melalui penanaman dan pembiasaan praktik-praktik baik nilai religiositas, yaitu hubungan manusia dengan Pencipta, hubungan antarmanusia dan hubungan manusia dengan alam semesta secara harmonis. Di samping itu, penanaman nilai nasionalisme, yaitu menanamkan rasa cinta tanah air, bela negara, menghargai kebhinekaan, rela berkorban dan taat hukum.

"Pencegahan paham radikal di sekolah dilakukan melalui implementasi PPK, nilai-nilai utama karakter tersebut diimplementasikan secara terintegrasi pada kegiatan intrakurikuler, kukurikuler dan ekstra-kurikuler, " jelasnya kepada rilis.id, di Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Arie menjelaskan, sekolah harus pro-aktif mengenali dan mengawasi munculnya berbagai paham radikalisme yang mungkin berkembang di sekolahnya, melalui kegiatan-kegiatan kerohanian yang menyimpang.

 "Selanjutnya sebagaimana kasus terorisme yang terjadi, maka kita harus kembali mengingatkan pentingnya peran keluarga didalam mencegah paham radikalisme," katanya. Karena, sekolah tidak bisa melakukan peran pencegahan tersebut sendiri, karena nilai-nilai dalam keluarga biasanya sangat mempengaruhi perilaku dan pemikiran anak secara fundamental.

Dengan demikian, Arie mengingatkan sekolah juga diharapkan menjalin komunikasi yang baik dengan Tri Pusat Pendidikan, yaitu antara sekolah, keluarga dan masyarakat. "Sehingga anak diharapkan mendapat perlindungan secara optimal diseluruh ruang hidupnya, baik di rumah, di sekolah dan di lingkungan masyarakat," pungkasnya.

Seperti diketahui, aksi teror bom di Surabaya Minggu (13/5/2018) sampai Senin (14/5/2018). Teror tersebut melibatkan anak-anak dan perempuan, bahkan diketahui satu keluarga menjadi terduga tersangka bom bunuh diri.

Editor: Elvi R


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)