logo rilis

Kemendes PDTT Gandeng Tokoh Desa, Ini Alasannya
Kontributor
Yayat R Cipasang
06 Juni 2018, 05:53 WIB
Kemendes PDTT Gandeng Tokoh Desa, Ini Alasannya
ILUSTRASI: Hafiz

RILIS.ID, Jakarta— Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) telah melakukan banyak hal dalam empat tahun mengemban amanat Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014. Upaya meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi pembangunan desa di masa depan sudah dimulai.

Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kemendes PDTT Anwar Sanusi, dalam sambutannya selaku ketua panitia acara Silaturahim dan Buka Puasa Bersama di Gedung Makarti Muktitama, Kemendes PDTT, Jakarta Selatan, Selasa (5/6/2018) malam.

Menurut Anwar, peran para tokoh dan penggiat desa sangat penting dalam upaya mendorong keberhasilan pembangunan desa. "Kalau tidak ada dukungan dari para tokoh dan penggiat desa, kami tidak ada apa-apanya," ujarnya.

Para penggiat desa, menurut Sekjen Kemendes PDTT merupakan aktor yang menggerakkan seluruh komponen desa mampu berjalan beriringan. Sehingga, seluruh program yang ditawarkan pihaknya selalu mendapatkan sambutan positif dari masyarakat.

Di sisi lain, dia mengakui, untuk mencapai keberhasilan yang maksimal, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. "Empat tahun belum seberapa untuk kita melihat desa yang mandiri," ucapnya.

Karenanya, dia berharap diadakannya silaturahmi ini bisa semakin meneguhkan komitmen bersama. Untuk terwujudnya desa yang maju, sejahtera dan mandiri.

Di bagian lain Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo menyatakan, kemajuan desa berkat dana desa dinilainya sangat signifikan. Pada awalnya, diungkapkannya, pengelolaan dana desa tidak mencapai yang diinginkan.

Pada tahun 2015, awal dana desa digulirkan sebesar Rp20 triliun, dan hanya terserap 82 persen. Walau begitu, dikatakan Mendes PDTT, Presiden Joko Widodo tetap berkomitmen untuk membangun dari desa.

Terbukti, setahun kemudian dana desa ditingkatkan dua kali lipat, dan penyerapan bisa mencapai 96 persen. Saat ini, dana desa juga difokuskan untuk menangani masalah stunting."Sedikitnya 30 persen anak Indonesia berpotensi stunting," ujarnya.

Hadir pada acara tersebut sejumlah pembicara seperti Direktur IndoBarometer Muhammad Qodari, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki, akademisi UIN Yogyakarta Abdul Rozaki, Ketua Komisi V DPR Faris Djemy Francis dan pengurus Lakpesdam PBNU Ulfi Ulfiah.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)