logo rilis

Kemendagri Sebut Program Memajukan Papua Sudah Berjalan Baik, Meski Belum 100 Persen
Kontributor
Zulyahmin
24 September 2019, 20:00 WIB
Kemendagri Sebut Program Memajukan Papua Sudah Berjalan Baik, Meski Belum 100 Persen
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengatakan, program pemerintah untuk terus memajukan Papua selama ini telah berjalan dengan baik, meskipun belum tuntas 100 persen. Karena, menurutnya, ada tahapan yang harus dilalui.

Plt Ditjen Otda Kemendagri, Akmal Malik, menyebutkan, program memajukan Papua itu di antaranya dalam aspek pengembangan sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, selama ini afirmasi bagi mahasiswa Papua telah berjalan. 

Bahkan, menurut dia, ribuan mahasiswa Papua dapat mengenyam pendidikan berkualitas di berbagai perguruan tinggi di seluruh wilayah Indonesia, layaknya mahasiswa dari berbagai daerah. 

Akmal menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara dalam diskusi publik dengan tema “Damai di Bumi Cenderawasih, Kita Semua Bersaudara” yang digelar Forum Mahasiswa dan Pemuda Pengawal NKRI (FMPP NKRI) di Kedai Kopi Perjuangan, Jalan Proklamasi, Jakarta, Selasa (24/9/2019). 

“Implementasi kebijakan otonomi khusus di Papua perlu dievaluasi agar kesejahteraan menyeluruh bagi masyarakat Papua," katanya. 

Selain Akmal, dalam diskusi itu juga hadir pembicara lainnya, di antaranya Plt Kepala Biro Humas Kemenkominfo  Ferdinandus Setu, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama RI Aliefosra Nur dan Ketua Forum Lintas Suku Bangsa Alan MS.

Ketua FMPP NKRI, Sudirman Hasyim, dalam kesempatan itu mengatakan, Papua tidak bisa dipisahkan dari NKRI. Menurutnya, kenyataan ini harus dipahami oleh seluruh kompenen bangsa  Indonesia, sehingga tidak ada primodialisme  berbasis suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) yang dapat memecah persatuan dan kesatuan.

Menurut dia, isu rasisme yang berdampak konflik antarbangsa terjadi belakangan ini tidak boleh terjadi lagi, karena hanya merugikan semua pihak. Stabilitas Papua, menurutnya, sudah baik karena masyarakat di Bumi Cenderawasih itu pada umumnya sudah memahami arti penting berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI.   

“NKRI harga mati meliputi wilayah Sabang sampai Marauke, Miangas hingga Pulau Rote.  Papua termasuk di dalamnya dan tidak dapat dipisahkan”, tegasnya. 

Sementara itu, Plt Kepala Biro Humas Kemenkoinfo, Ferdinandus Setu, mengungkapkan alasan terkait sempat diblokirnya internet di Papua saat terjadi kerusuhan beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal itu dilakukan demi menghindari situasi yang semakin memburuk. 

"kebijakan take down layanan data di Papua pada saat terjadi kerusuhan beberapa waktu lalu, adalah dalam rangka menghindari semakin buruknya situasi. Berbagai berita hoaks viral, sehingga tidak ada kesempatan untuk mengklarifikasi kebenaran berita tersebut. Masyarakat termakan isu yang tidak benar sehingga memunculkan amarah tak terkendali. Namun demikain layanan seluler tatap dapat digunakan," jelas dia. 

Dalam kesempatan itu, Ketua Forum Lintas Suku Bangsa, Alan MS, menjelaskan, heterogenitas bangsa Indonesia merupakan kekayaan yang tidak dimiliki bangsa lain di dunia ini.

“Keniscayaan ini menjadi modalitas untuk saling mengenal satu sama lain, sehingga terbangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia," jelasnya. 

Sementara, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama RI, Aliefosra Nur, dalam sambutannya mengatakan bahwa pemerintah menjamin rakyatnya untuk beribadah menurut agama yang diakui oleh undang-undang. 

Menurut dia, kerukunan umat beragama di Indonesia menjadi contoh bagi berbagai negara di dunia, karena dapat berjalan secara harmonis. Menurutnya, keharmonisan antarumat beragama di Indonesia merupakan bentuk toleransi nyata dan tumbuh berkembang dibtengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Oleh karena itu, konflik yang dipicu isu rasial belakangan ini terjadi karena  simpang siur pemberitaan yang menyesatkan masyarakat umum.  Konflik mudah disulut oleh provokasi dan agitasi berbasis SARA, sehingga mengorbankan berbagai kepentingan anak bangsa," tutupnya. 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID