logo rilis
Kemenangan Oposisi Malaysia Angin Segar bagi #2019GantiPresiden
Kontributor
Syahrain F.
14 Mei 2018, 16:55 WIB
Kemenangan Oposisi Malaysia Angin Segar bagi #2019GantiPresiden
Acara Dialog Kebangsaan: #2019PresidenHarapanRakyat, di Tebet, Jakarta, Senin (14/5/2018). FOTO: RILIS.ID/Syahrain F

RILIS.ID, Jakarta— Euforia kemenangan oposisi di Malaysia tampaknya membawa angin segar bagi kelompok penggagas #2019GantiPresiden.

Bermodal slogan "pribumi" dan "lawan korupsi", politisi berusia 93 tahun Mahathir Mohamad berhasil menumbangkan rezim yang telah berkuasa selama 60 tahun di negeri Jiran Malaysia.

Ekonom Salamuddin Daeng menjelaskan, sejatinya permasalahan yang dihadapi Malaysia dengan Indonesia relatif serupa. Salah satunya adalah pelemahan ekonomi terus menerus dalam jangka waktu yang panjang.

"Bank Dunia menyebut hanya 4 persen pertumbuhan ekonomi Malaysia, sementara Indonesia tidak pernah mencapai targetnya (pertumbuhan ekonomi)," kata Salamuddin dalam diskusi bertajuk Dialog Kebangsaan: #2019PresidenHarapanRakyat, di Tebet, Jakarta, Senin (14/5/2018).

Pakar ekonomi pertambangan itu menjelaskan lebih jauh, di Malaysia, investor dari negeri para naga (Cina, red) menggelontorkan dana segar dalam jumlah fantastis.

Mantan Perdana Menteri yang baru saja ditumbangkan, Najib Razak, mengatur investasi asing dengan kontrak selama 95 tahun.

Sementara di Indonesia, di bawah Presiden Jokowi peluang investasi asing terbuka lebar. Hal itu menurutnya tak jauh berbeda dengan permasalahan yang dihadapi Indonesia.

"Jokowi sangat menikamti kerangka kerja investasi asing. Dan dia memuluskan semulus-mulusnya agar masuknya (investasi asing) lebih gampang. Dia seperti sales marketing dari apa yang diinginkan oleh investor," ujar Salamuddin.

Menurut Salamuddin, kemesraan Najib dengan Cina memunculkan kritik dan reaksi keras dari berbagai kalangan di Malaysia--isu yang tak jauh berbeda dengan yang digaungkan kelompok oposisi di Indonesia.

"Di Malaysia para pakar mempertanyakan mengapa Najib begitu membuka diri kepada Cina. Salah satu pembangkit listrik terbesar dijual ke Cina," paparnya.

Belakangan, ancaman invasi tenaga kerja asing, hutang luar negeri dan bangkitnya ideologi komunisme menjadi sejumlah isu yang terus bergulir.

"Pribumi saja yang setengah dari populasi Malaysia bisa menggulingkan rezim yang bercokol 60 tahun. Apalagi kalian yang 90 persen lebih, masa tak bisa ngalahin yang 1 persen?" ujar penggagas Garda 212 Ansufri Idrus Sambo.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)