Home » Bisnis

Keluarkan Resolusi Kelapa Sawit, DPR Anggap Uni Eropa Khianati Indonesia

print this page Kamis, 7/12/2017 | 16:14

Edhy Prabowo. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Komisi IV DPR RI Edhy Prabowo menganggap Uni Eropa telah mengkhianati Indonesia terkait ratifikasi resolusi kelapa sawit yang dikeluarkan Parlemen Eropa. Bangsa Indonesia, katanya, merasa ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri.

"Bagaimana tidak, Indonesia merupakan mitra, sahabat dalam berbagai kerja sama bilateral dan unilateral sejak awal Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri. Namun tiba-tiba, muncul isu kampanye hitam terhadap kelapa sawit yang jelas-jelas Indonesia sebagai salah satu pengeskpor kelapa sawit terbesar di Eropa. Kondisi ini tentu sangat merugikan Indonesia yang di dalamnya banyak petani kecil," ujar Edhy, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (7/12/2017).
 
Resolusi atau Kampanye hitam sawit yang dinamai palm oil and deforestation on the rainforests (kelapa sawit dan deforestasi hutan hujan) oleh Uni Eropa ini menuding, pengembangan industri kelapa sawit menjadi penyebab utama deforestasi dan perubahan cuaca. Padahal, deforestasi bukan hanya disebabkan oleh pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
 
Politisi Partai Gerinda ini lebih meyakini, resolusi berupa kampanye hitam atas kelapa sawit itu semata karena persaingan bisnis dengan tujuan agar minyak sawit tidak dimasukan sebagai bahan baku program biodisesel pada 2020 mendatang. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip dagang yang dianut Uni Eropa selama ini, yakni fair trade (perdagangan yang adil).

Atas dasar itulah, Komisi IV kemudian melakukan kunjungan ke Parlemen Uni Eropa yang tak lain untuk menyelesaikan kesalahpahaman itu.

"Saya dan delegasi DPR RI yang berjumlah 16 orang didampingi oleh Wakil Kementerian Pertanian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan datang ke Belgia dan bertemu Committee on Agriculture dan Rural Development Parlemen Eropa dan Directore General of Agricultural and riural development (DG AGRI) European Community di Brussel. Saat itu saya mempertanyakan persoalan resolusi sawit yang diajukan Parlemen Eropa. Saya jelaskan betapa pentingnya perkebunan dan industri kelapa sawit dalam membangkitkan ekonomi petani kecil," papar Edhy.

Saat itu, tambahnya, banyak yang tidak tahu bahwa 41 persen perkebunan sawit dikelola oleh petani kecil, sehingga kalau resolusi tersebut diterapkan akan mengganggu kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, budidaya sawit merupakan sumber pendapatan jutaan petani dan keluarga petani Indonesia. Sehingga mengganggu sistem yang sudah berjalan dengan baik ini sama dengan mengganggu harkat hidup jutaan orang Indonesia.

"Meski demikian, secara internal saya juga berharap agar pemerintah dan para petani terus memperbaiki diri dan menghilangkan kasus pengerusakan hutan (kebakaran hutan) seperti yang dituduhkan oleh Parlemen Uni Eropa, meskipun hal itu jumlahnya sangat kecil dibanding keseluruhan hutan sawit yang ada," pungkasnya, dikutip dari laman resmi DPR.

Penulis Eroby JF

Tags:

Kelapa Sawit Resolusi Kelapa SawitEdhy Prabowo