logo rilis

Kelas Pesantren
kontributor kontributor
Mohammad Nasih
14 November 2018, 12:15 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
Kelas Pesantren
ILUSTRASI: HAFIZ

KESADARAN umat Islam semakin memahami ajaran Islam dan bisa menjalankannya secara utuh (kaffah) dalam dua setengah dekade terakhir meningkat signifikan. Bahkan, makin banyak muslim yang dalam trikotomi Clifford Geertz disebut ”abangan”, mengalami kesadaran itu.

Indikatornya terlihat, terutama pada kalangan terpelajarnya. Mereka kuliah di perguruan-perguruan tinggi excellent (UI, ITB, IPB, dll) yang di dalamnya terdapat gerakan Islam yang kuat. Namun, bukan berarti kalangan abangan di luar itu tidak mengalami kesadaran sama.

Secara umum, mereka berprinsip walaupun tidak begitu paham agama karena terlambat mempelajari dan mengamalkannya, tetapi anak-anak mereka harus lebih baik dalam pemahaman dan pengamalannya.

Sebab, mereka telah mendapat pencerahan dalam wawasan bahwa Islam adalah agama yang benar dan karena itu sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Jangan sampai anak-anak sama dengan mereka yang berkubang dalam kehidupan golongan abangan yang tidak memiliki panduan hidup jelas.

Sederhananya, semakin banyak orang tua yang makin menyadari bahwa di tengah gempuran berbagai ideologi dan paradigma pada zaman ketinggian ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi, hanya agama yang benarlah yang memiliki daya untuk membentengi anak-anak mereka dari berbagai potensi destruktifnya. Karena itu, tidak ada pilihan lain selain mengarahkan anak-anak mereka untuk belajar agama secara lebih baik dan intensif.

Untuk mendapatkan pendidikan agama sebagaimana yang diinginkan itu, tidak ada tempat yang lebih baik dibandingkan pondok pesantren. Sebab, di dalamnya, kaum muda belia bisa mengkonsentrasikan diri untuk belajar mulai dari ilmu-ilmu alat.

Belajar agama tanpa memiliki ilmu alat, bagaikan nelayan mencari ikan di lautan lepas, tapi tidak membawa alat-alat penangkap ikan. Mereka tidak akan mendapatkan hasil dan yang dirasakan hanyalah kelelahan. Bedanya, kelelahan kegagalan menangkap ikan bisa dipastikan akan menimbulkan kelelahan. Sedangkan kelelahan belajar, walaupun tanpa hasil, masih bisa dijauhkan dari keputusasaan dengan hiburan mendapatkan pahala.

Terutama para orang tua yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren, bisa dipastikan merasakan pesantren merupakan tempat untuk menanamkan karakter Islami. Karena itu, mereka menganggap bahwa mengarahkan anak-anak untuk belajar di pesantren adalah pilihan terbaik.

Oleh mereka, pemahaman dan pengamalan agama dianggap sebagai dasar bagi keterampilan hidup. Dengan demikian, kehidupan yang akan dijalani oleh generasi baru mereka akan selalu berada dalam koridor yang benar, tidak melenceng dan menyebabkan kesesatan.

Kecenderungan itu dilihat oleh para penggiat pendidikan, sehingga mereka membangun lembaga pendidikan yang sering disebut ”terpadu”. Maksudnya adalah memadukan pelajaran-pelajaran konvensional di sekolah umum dengan pelajaran agama yang biasanya hanya didapatkan di pesantren. Inilah yang menyebabkan pesantren yang pada zaman dahulu biasanya diminati hanya oleh kalangan menengah bawah dalam aspek ekonomi, kini diminati juga oleh kalangan atas.

Bahkan sekolah-sekolah ini kemudian juga menyediakan asrama agar para murid bisa dibina secara lebih intensif dengan kurikulum keislaman yang lebih banyak, tidak hanya teori tetapi juga praktik dalam kehidupan keseharian, terutama praktik ibadah dan mu’amalam dalam skala kecil atau sempit.

Aspek ibadah perlu pembiasaan sejak kecil. Mempelajari agama saat sudah dewasa harus diakui memiliki tingkat kesulitan tersendiri, karena berkaitan dengan bacaan kepada teks yang berbahasa Arab. Jika lidah tidak dibiasakan dengan bacaan-bacaan yang berbahasa Arab itu, maka akan terdengar kualitas bacaan yang sesungguhnya sangat berkorelasi dengan tingkat pemahaman.

Terlebih lagi yang berkaitan dengan pembiasaan dalam menjalankan ibadah, baik yang wajib maupun sunah. Terutama dalam pelaksanaan ibadah sunah ini, pesantren biasanya memiliki penekananan yang lebih, sehingga para santri biasanya menjadi figur-figur yang lebih baik dalam menjalankannya, karena telah terbiasa menjalani kehidupan prihatin di pesantren.

Pesantren awalnya dikembangkan dalam masyarakat dalam tradisi NU yang dikenal sebagai kalangan tradisional. Namun, belakangan, kecenderungan untuk mendirikan dan mengelola pesantren juga muncul di kalangan Muhammadiyah.

Kecenderungan baru di kalangan Muhammadiyah ini disebabkan oleh kesadaran bahwa Muhamadiyah mengalami kekurangan pemikir-pemikir yang memiliki penguasaan mendalam kepada khazanah intelektual Islam, terutama yang klasik.

Mereka yang memiliki kualitas itu rata-rata berasal dari keluarga dengan basis gerakan kultural NU, tetapi tidak terakomodasi di NU, karena bukan merupakan keturunan darah biru kiai. Dengan mendirikan pesantren sendiri, tentu saja Muhammadiyah bisa berharap memiliki tambahan kader-kader intelektual Islam dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya.

 

Nilai Plus

Menjadi santri sesungguhnya berarti memiliki nilai plus. Sebab, dengan menjadi santri sesungguhnya telah membiasakan diri dengan nilai-nilai yang didesain sebagai nilai-nilai universal. Sebab, ajaran-ajaran Islam merupakan acuan kebenaran yang tidak tersekat oleh ruang dan tidak berubah oleh waktu.

Menjadi santri sesungguhnya menjadi pribadi yang mampu menangkap universalitas dalam ajaran-ajaran Islam. Karena itu, santri merupakan pribadi yang telah memiliki kesiapan untuk menerima kebenaran walaupun sebelumnya tidak dikenal dalam tradisinya.

Mengenai implementasi peneriman kepada nilai-nilai itu, dalam konteks-konteks tertentu bisa dimasukkan dalam tradisi yang telah ada dan hidup sebelumnya dalam tradisi masyarakat. Ini merupakan wujud nyata bahwa untuk mengajarkan Islam memerlukan kreativitas tinggi, sehingga tetap ramah terhadap tradisi lokal.

Santri dalam arti yang sesunguhnya, setidaknya juga pasti menguasai lebih dari dua bahasa. Sebab, di Indonesia, orang dituntut untuk menguasai bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Dan untuk menguasai ajaran-ajaran Islam secara kaffah, penguasaan kepada bahasa Arab merupakan keniscayaan.

Dan jika telah terbiasa dengan bahasa Arab, untuk menguasai bahasa yang lain lagi juga menjadi lebih mudah. Sebab, santri telah membuktikan diri mampu menguasai bahasa Arab yang tingkat kerumitan tata bahasanya jauh lebih tinggi dibandingkan bahasa-bahasa yang lain. Harus diakui bahwa bahasa Arab, karena keunggulannya, telah melahirkan berbagai disiplin cabang di dalam kajiannya.

Dalam satu dekade terakhir, para santri juga mulai membanjiri perguruan tinggi excellent. Terutama setelah terjadi peningkatan anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN, alokasi untuk beasiswa meningkat. Di antara yang mendapatkan manfaat dari fasilitas baru itu adalah kaum santri yang  rata-rata berasal dari keluarga miskin.

Dalam satu dua dekade yang akan datang, pesantren akan panen santri yang telah memiliki gelar tambahan dari dunia akademik yang sebelumnya ”dianggap sekuler”. Merekalah yang akan menjadi figur-figur yang menunjukkan bahwa santri bukanlah entitas pinggiran, tetapi sebaliknya justru adalah entitas yang memiliki nilai lebih dibandingkan yang bukan santri.

Dari figur-figur inilah, akan kembali nampak bahwa Islam adalah agama yang sangat komprehensif, menjadi panduan untuk kebaikan hidup di dunia dan juga di akhirat. Wallahu a’lam bi al-shawab. (*)

 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)