Home » Fokus

Kekuatan Massa di Balik Gawai

print this page Sabtu, 9/12/2017 | 10:19

FOTO: RILIS.iD/Ilustrasi, Hafidz Faza

LOGAM lingkar itu berputar pelan. Suaranya berdecit, mengiang-ngiang. Pria berkacamata dengan setelan kemeja putih ini, berdiri di tengah himpitan orang. Kepalan tangannya mengait pada batang besi. Mencari pegangan.

Kereta Commuterline tiba di Stasiun Juanda sekitar pukul 07.00 pagi. Tak terhitung berapa banyak orang berjejal di sana. Tapi, hampir semua memiliki satu tujuan. Mendatangi Lapangan Silang Monas, Gambir, Jakarta.

Hari itu, Jumat, 2 Desember 2017. Waktu di mana sekelompok massa sepakat mengagendakan pertemuan akbar. Atas nama 212. Mereka menggelar reuni. Namun, tak semua terdaftar sebagai alumni. Vicky, 30 tahun, di antaranya.

Dalam "Aksi Bela Islam" tahun 2016 silam. Ia absen mengikutsertakan diri. Hanya melayangkan pandang sesaat. Pun lewat kaca kereta yang sembari melintas. Penasaran, ia mencari tahu. Lewat gawainya berselancar.

Ramai netizen membagi-bagikan cerita. Rasa irinya berkeliaran. Menjadi bagian dari warganet, tahun ini Vicky tak mau ketinggalan ikut andil menuliskan kisah. Setibanya di Monas, potret suasana ia dokumentasikan. Lalu diunggahnya ke Instagram.

"Alhamdulillah, masih digerakkan hatinya untuk turut serta dalam Maulid Nabi Muhammad SAW," tulis Vicky dalam posting-an berlatar kerumunan orang berseragam putih. Tak lupa ia cantumkan hastag #reuni212.

Pada tanggal itu, hastag tersebut menduduki puncak trending topic. Baik, di Instagram maupun Twitter. Diklaim, sebanyak 7,5 juta orang berkumpul. Mereka bukan hanya dari Jakarta atau kota-kota penyangga. 

Banyak daerah menyumbangkan massa. Balada perjalanan mereka terekam di media sosial. Serbuan like menjadi simbol apresiasi dari akun yang "memviralkan".

Jaringan komunikasi nirkabel ini serba bisa dimanfaatkan. Termasuk jua mementaskan "peperangan".

Ketika perhelatan aksi kemarin hendak berjalan, ternyata banyak yang tak sepaham. Namun, kontroversinya senyap. Baru terdengar bila membuka media sosial, debat kusir sudah berlangsung panjang.

Pihak yang tak setuju, turut mendulang suara dengan hastag #tolak212 dan #reuni212batal. Mereka ingin "para pendatang" bubar barisan. Berbagai opini mereka siarkan, sampai foto panggung roboh pun beredar

Ustadz Fellix Siauw dalam akun Twitternya memberi tanggapan. "Salah satu tugas setan, memecah belah di antara umat Muhammad, yang punya sifat ini tak akan diam melihat umat bersatu seperti di #reuni212," kicau @fellixsiauw.

 

Dinamika Media Sosial

Upaya menggiring kehendak publik lewat label teknologi digital sudah terjadi jauh-jauh hari sebelum reuni 212. Misal, @TrioMacam2000. Akun anonim tersebut sudah memiliki puluhan ribu pengikut di debutnya pada 2011.

Kicauan akunnya kerap menyerempet isu sensitif. Streaming kontennya berhasil menarik respons para pengguna media dalam jaringan. Entah fakta atau bukan. Namun, fungsi lain sistem berjejaring ini mereka optimalkan.

Dalam jurnal berjudul Demokrasi Virtual dan Perang Siber di Media Sosial: Perspektif Netizen Indonesia (Iswandi, 2017), media sosial awalnya ditujukan untuk menjalin hubungan. Memperkuat atau mencari relasi baru.

Namun, aktivitas masyarakat "online" lah yang pelan-pelan menggeser kegunaan sistem kekerabatan berbasis daring ini. Pola interaksi sosial kian berubah ketika "jendela" maya, menjadi sumber informasi khalayak.

Semua bermuara pada karakteristik media sosial. Seperti sudah didesain agar para pengguna tak hanya mengonsumsi informasi. Tapi juga memproduksi serta mendistribusikannya. Penggiat media sosial Indonesia sadar hal itu.

"Mereka inilah yang aktif bermain hastag. Pada mulanya untuk menginisiasi berbagai pergerakan-pergerakan sosial," ujar sang peneliti yang juga Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra.

Media sosial mengambil peranan signifikan. Buktinya, kasus hukum yang menjerat Prita Mulyasari pada 2008. Lalu, upaya pelemahan KPK yang bertema, Cicak vs Buaya jilid I. Netizen merespons secara besar-besaran.

Tapi, dalam kancah pergulatan politik nasional, media siber mulai mengambil momentumnya pada 2012. Pilkada DKI Jakarta mempertontonkan keseruan berbeda.

Memasuki masa kontestasi politik, para penggiat media sosial ini mengkristal. Mereka berafiliasi pada kepentingan. Ini fenomena baru, namun tak asing. Negara-negara maju sudah lama menjadikannya armada parpol.

Lama-kelamaan semakin berkembang. Di tahun 2014, perangkat digital menawarkan konsep baru berdemokrasi. Geliat relawan menunjukan eksistensinya lewat media sosial. Marketing komunikasi bertebaran menjual jasa.

Peneliti di Lembaga Ilmu Pendidikan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo, menilai, tren berpolitik lewat dunia maya semakin matang. Pilkada DKI 2017 silam memamerkan pola terbaru dengan manajemen isunya ketika itu.

Dari sana, munculah berbagai aksi turun ke jalan. Media sosial berhasil mencipatakan momentum artifisial. Pemanfaatan teknologi tak bisa disangkal. Era post-truth digadang-gadang, memulai perdebatan

Baca juga:

Kekuatan Massa di Balik Gawai (bagian 1)

Media Sosial, Buat Siapa? (bagian 2)

Ketika "Mereka" Menerjang (bagian 3)

Tolak Mengamini Hoaks (bagian 4)

Perlu Literasi Bermedia Sosial (bagian 5)

Penulis Andi Mohammad Ikhbal

Tags:

MedsosMedia SosialReuni 212Politik